Dosen Yang Masih Suka Main Air

Aji Aditya Junior, Trijaya · Selasa 11 Desember 2007 18:20 WIB
https: img.okezone.com content 2007 12 11 99 67550 3GWJLFnCd6.jpg

UNILA - Tidak semua mahasiswa seberuntung Ade Suryani, lulus kuliah di tahun 2006, langsung menjadi dosen luar biasa di Jurusan komunikasi FISIP Universitas Lampung, setahun kemudian dan langsung menempuh pendidikan S-2 jurusan media dan komunikasi Universiti Kebangsaan Malaysia.

Inilah sosok dosen sekaligus mahasiswa yang bisa dikatakan cukup superior dalam usia yang masih sangat muda, 23 tahun. Sosok luwes ini seakan paham betul dengan efisiensi waktu.Diluar kegiatan studinya yang saat ini masih dalam suasana libur semester, perempuan yang hobi main air ini juga aktif di komunitas Dakocan, sebuah lembaga pendidikan yang konsern terhadap pendidikan alternatif anak-anak.

Kepedulian terhadap pendidikan anak-anak ini menurut Ade menjadi obsesinya sejak beberapa tahun belakangan. Berawal dari membaca buku Toto chan, dan mempelajari cara mendidik orang tuanya terhadap Ade yang dianggapnya tepat.

Putri Dimyadi Roni-Rohuna ini mencoba membuat pola tentang bagaimana seharusnya seorang anak dididik, baik oleh lingkungan, orang tua, maupun sekolahnya. "Aku tuh diajarkan metode teman tapi tanggung jawab oleh orang tuaku. Dibebaskan untuk memilih, namun bertanggung jawablah terhadap pilihan tersebut," ujarnya.

Namun saat ditanya, apakah hal ini yang akan menjadi fokusnya di masa depan. Ade menggeleng. Dia menerangkan hal ini hanya menjadi salah satu titik dari sekian banyak pencapaian yang ingin dia raih. Ditanya apa pencapaian utama yang ingin digapainya, Ade malah terdiam cukup lama.

"Dulu aku itu orangnya well planed,semua kegiatanku memiliki target-target yang jelas. Namun saat kuliah, aku merasa capek lihat time planner. Akhirnya aku mulai membiarkan otakku untuk mecari titik nyamannya sendiri. Mencari titik antusianisme terbesarku."

Ade mengaku sangat miris dengan kinerja media pemberitaan di Indonesia yang mengedepankan sensasionalitas dan slogan "bad news is good news". Hal ini sangat dirasakannya dengan gencarnya pemberitaan yang menjurus kepada permusuhan antar bangsa,antar suku , dan membuat masyarakat berada dalam keadaan takut.

"Sebagai orang komunikasi, aku merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap itu. Media pemberitaan kok malah menyulutkan permusuhan. Contoh yang paling simpel, ya, pemberitaan tentang Malaysia.

Sebagai WNI yang tinggal di Malaysia, aku berani mengatakan, apa yang terjadi di Malaysia tidak seseram pemberitaan kita disini kok. Penganiayaan bukan hanya terjadi pada WNI, TKI.Namun bisa menimpa siapa saja. Masalah Reog, berapa banyak orang Indonesia yang tahu bahwa Barongan adalah nama tim kesenian Reog Ponorogo asal Jawa Timur yang sudah 10 tahun menetap di negeri ini, dan saat ini sedang laris-larisnya di Malaysia."

Ade bukanlah sosok antinasionalis yang tidak peduli dengan nasib bangsanya. apa yang dikatakannya ini merupakan cara pandang akademisnya dalam menelaah masalah-masalah di masyarakat.

Kurang lebih 2 jam, wanita berjilbab ini berbagi cerita tentang impian dan idealismenya. Namun,wawancara sempat terhenti saat Ade melihat sebuah kolam ikan. Sifat kekanakannya kumat. Obsesinya terhadap air tidak bisa dia tahan.

Segera dia melepaskan sepatu, berlari menuju kolam, kemudian merendam telapak kakinya.Lalu memain-mainkan kakinya di atas riak air.Raut wajahnya terlihat sangat senang.

"Mau gabung mas?" ajaknya manja.

Memiliki kecerdasan yang lumayan menjulang, Ade ternyata tidak sungkan memamerkan sifat kekanak-kanakkannya.

(fit)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini