nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KH Moh Ilyas Ruhiat Dimakamkan Rabu Pkl 08.00 WIB

Nanang Kuswara, Jurnalis · Selasa 18 Desember 2007 20:42 WIB
https: img.okeinfo.net content 2007 12 18 1 69226 BHxtKJCKwS.jpg

TASIKMALAYA - Sesepuh Ponpes Cipasung KH Moh Ilyas Ruhiat meninggal pada pukul 16.15 di rumahnya setelah menderita sakit selama kurang lebih tiga bulan lamanya akibat menderita penyakit komplikasi dan sempat di rawat di RSHS Bandung. Genap diusianya ke-73 ulama kharismatik yang disegani di era orde baru tersebut meninggal tepat enam bulan setelah wafat isterinya Dedeh Fuadah pada bulan Juni 2007 lalu.

Komplek Ponpes Cipasung di Jalan Raya Singaparna, Kec Singaparna, Kab Tasikmalaya, langsung dipadati para pelayat yang berasal dari para santri, alumni, serta nampak pula beberapa pejabat dari lingkungan Pemkab dan Pemkot Tasikmalaya. Nampak suasana duka begitu mendalam di wajah ketiga anak yang ditinggalkannya yakni Acep Zamzam Noor, Ida Nurhalida, dan Enung Nursaidah, yang secara langsung menyaksikan wafat Ayahandanya.

Saat wafat KH Moh Ilyas Ruhiat berada di dalam kamarnya ditunggui ketiga anak, menantunya Abdul Chobir, KH Oban, KH Jajang, Ust Tarsidan, Ust Asep, Ust Mahdi, Ust Saepudin Mustofa, serta beberapa santri yang hendak melaksanakan pengajian ashar. "Namun belum sempat pengajian dilaksanakan tiba-tiba bapak menarik nafas panjang sebanyak dua kali dan langsung nafasnya terhenti," kata Ida, Selasa, (18/12/2007).

Menjelang Maghrib, jenazah kemudian di semayamkan di dalam Mesjid tepat di depan rumah KH Moh Ilyas Ruhiat untuk dishalatkan. Sebelumnya, jenazah akan dikebumikan di pemakaman keluarga di belakang Ponpes Cipasung namun berdasarkan kesepakatan keluarga akhirnya pemakaman diundur hari ini (Rabu 19/12) pukul 08.00. "Berhubung masih banyak alumni serta beberapa sanak family dan kerabat yang ingin melihat almarhum, maka diputuskan pemakaman besok saja. Kami akan melaksanakan pengajian sampai besok siang," ujar Abdul Chobir usai melaksanakan musyawarah.

KH Moh Ilyas Ruhiat bukan hanya dikenal sebagai pimpinan sebuah Ponpes di Kab Tasikmalaya, melainkan juga dikenal sebagai ulama dan pemimpin yang kharismatik dan disegani serta sempat menjabat sebagai Rais Akbar dan Rais Syuriah PBNU. KH M Ilyas Ruhiat mulai mengawali karir organisasinya sebagai Ketua IPNU Tasikmalaya pada tahun 1954. Hingga akhirnya pada tahun 1992 pada Konferensi Besar NU di Lampung tahun 1992 KH M Ilyas Ruhiat ditetapkan sebagai pejabat pelaksana rais aam, hingga pada Muktamar Cipasung tahun 1994 ditetapkan sebagai Rais Aam Syuriah PBNU.

Keteguhan prinsip dari seorang ulama kerap kali diperlihatkan anak dari pasangan KH Ruhiat (alm) dan Aisyah (alm) dalam perjalanan kehidupannya, seperti melakukan penolakan menjadi anggota MPR pada tahun 1992 serta menolak calon presiden yang bertamu kerumahnya sebagai capres. Kebijakan dan pemikirannya seringkali menjadikan obat penenang bagi kader NU yang beberapa kali sempat terjadi pertikaian dan pertentangan dalam penyelenggaraan musyawarah.

Anak pertama KH Moh Ilyas Ruhiat (alm) dan Dedeh Fuadah (alm), Acep Zamzam Noor mengatakan, sangat kehilangan bapak sekaligus pemimpin yang sangat dikaguminya. "Bukan hanya sosok seorang bapak yang nampak padanya, tetapi sosok sebagai seorang pemimpin bagi saya," ungkap Acep.

Acep menjelaskan, sejak sakit komunikasi dengan ayahandanya sedikit terganggu dan setiap saat selalu dijagai keluarga dan santri-santrinya serta makan minum pun dilakukan dengan menggunakan infus. "Kan sempat dirawat dulu di RSHS selama dua bulan, kemudian dipindahkan ke rumah. Sampai saat ini sudah dua bulan lamanya lah, sedangkan dari waktu Ibu meninggal kira-kira enam bulan lamanya lah jaraknya," jelasnya.

Sementara itu, Bupati Tasikmalaya Tatang Farhanul Hakim menyebutkan, pihaknya sangat merasa kehilangan seorang ulama dan pemimpin kharismatik kebanggaan Kab Tasikmalaya. "Beliau pun bukan hanya sebagai ulama, melainkan seorang pendidik yang handal. Terbukti dengan Ponpes Cipasung yang bukan hanya menciptakan lulusan yang pandai melaksanakan pengajian, melainkan juga berdiri berbagai sekolah mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi yang menghasilkan lulusan yang handal," cetusnya.

Tatang berharap, untuk selanjutnya dari keluarga Ponpes Cipasung muncul ulama besar yang akan menjadi pemimpin masa depan dan membawa angin segar bagi masyarakat.

(sjn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini