nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dianggap Meresahkan Warga, Aliran Salat 3 Waktu Di-geruduk

Ishomuddin, Jurnalis · Rabu 19 Desember 2007 05:40 WIB
https: img.okeinfo.net content 2007 12 19 1 69265

SITUBONDO - Sebuah aliran agama Islam yang diduga Syi'ah dan dianggap sesat oleh masyarakat Desa Klatakan, Kec Kendit Kab Situbondo, Selasa siang diprotes warga. Ratusan warga ngeluruk kantor desa setempat untuk mengadukan ajaran yang meresahkan masyarakat sekitar itu.

Aksi spontan yang dilakukan warga itu diwarnai kekisruhan. Warga mendesak pejabat muspika setempat untuk membubarkan ajaran agama Islam yang disebut-sebut beraliran Sy'iah itu.

Ajaran ini dibawa dan diajarkan oleh seseorang bernama Ustad Rofi'i kepada sekitar 25 pengikutnya di Dusun Pecaron desa setempat. Warga juga meminta pihak muspika dan Kades Klatakan mengadili langsung Rofi'i dan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan warga. Desa Klatakan memang dikenal sebagai basis Nahdlatul Ulama (NU) yang beraliran Ahlusunnah Wal Jama'ah itu.

 

Warga merasa ajaran Rofi'i ada yang salah. Karena tidak sesuai dengan syariat Islam diantaranya dia mengajarkan shalat wajib yang hanya tiga waktu padahal dalam Islam waktu salat ada lima waktu.

"Jelas itu sangat meresahkan warga di sini yang rata-rata Ahlussunnah Wal Jamaah. Ajaran itu sangat melecehkan seperti salat itu hanya ada tiga waktu saja. Mereka juga mencaci atau menjelekkan ulama-ulama Situbondo," kata Samsul, salah satu warga setempat.

Menurut keterangan warga lainnya, ajaran yang dibawa Rofi'i ini sudah tumbuh dan berkembang sejak dua tahun silam di dusun setempat. Namun karena warga belum cukup bukti kuat untuk menilainya sesat, warga memberikan toleransi terhadap Rofi'i dan pengikutnya.

Puncaknya, Selasa siang dengan bukti dan saksi yang kuat, warga menuntut ajaran Rofi'i dihentikan karena tidak sesuai syariat Islam dan meresahkan warga. "Kami tidak menerima aliran itu tumbuh dan berkembang di desa kami. Sebenarnya, ajaran itu sudah dua tahun silam diajarkan tapi kami belum cukup bukti. Kami mendesak muspika agar aliran itu dibubarkan dan jangan berkembang lagi di desa kami," tandas warga yang lain.

 

Setelah dilakukan pertemuan antara perwakilan masyarakat dan penganut ajaran yang diduga sesat dengan dihadiri perwakilan dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Sugih Caravallo, Kapolsek Kendit AKP Triyono, Camat Kendit Suwardi dan perwakilan koramil setempat, disepakati jalan damai atau islah. Kedua pihak diminta membuat surat pernyataan.

Rofi'i bersedia kembali ke ajaran Islam yang benar dan berjanji tidak mengajarkan atau menyebarkan ajaran yang dianggap sesat itu. Sedangkan perwakilan dari warga desa yang diwakili Salman Farisi menyatakan siap menerima kembali Rofi'i di tengah-tengah masyarakat seperti sedia kala demi terciptanya persaudaraan diantara umat Islam.

Kapolres Situbondo melalui Kapolsek Kendit AKP Triyono membenarkan adanya protes warga atas ajaran Islam yang dianggap sesat dan akhirnya disepakati jalan damai. "Situasi keamanan aman dan terkendali. Kedua pihak sepakat damai dan menandatangani surat pernyataan," kata Triyono.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini