Puluhan Warga Sukabumi Diserang Chikungunya

Toni Kamajaya, Sindo · Minggu 21 September 2008 16:55 WIB
https: img.okezone.com content 2008 09 21 1 147952

SUKABUMI - Sekira 30 orang warga Kampung Aspol RT 04/07 Cicurug, Kabupaten Sukabumi menderita Chikungunya sejak bulan Juli 2008. Hingga kini kurang lebih 21 penderita masih mengalami kelumpuhan sementara akibat digigit nyamuk jenis Aides Abupiktus itu.

Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat sejak akhir pekan lalu membuka posko penanggulangan Cikungunya di sekitar daerah tersebut. Selain mengambil sample darah, petugas kesehatan juga melakukan penyemprotan sebagai upaya pemberantasan sarang nyamuk.

"Semula kami tidak tahu gejala penyakit yang di derita warga disebabkan Chikungunya. Sejak Juli lalu, jumlah warga yang menderita Chikungunya mencapai 30 orang. Umumnya mereka mengeluhkan demam dan nyeri pada persendian. Bahkan mengalami kelumpuhan," tutur Ketua RT 04, Dudung Priatna, Minggu (21/9/2008).

Dia menambahkan, sebagian besar lainnya masih mengalami gejala tersebut sehingga harus menjalani pengobatan di posko penanggulangan yang telah dibuka Dinkes setempat. Sejauh ini, kata dia, sumber bersarangnya nyamuk Aides Abupiktus yang diduga telah menyebarkan virus Chikungunya kepada warga masih belum diketahui.

Cikungunya yang mewabah di Kampung Aspol tersebut, umumnya menyerang warga dewasa, terutama kalangan lanjut usia. Salah satunya Ustad Endang Sudrajat. Pria yang telah berusia di atas 50 tahun itu, mengaku mulai mengalami gejala Cikungunya sejak tiga hari terakhir. Selain tubuhnya diserang demam, bagian persendian pada kedua kakinya juga dirasakan sangat ngilu.

Sementara itu, petugas survei Dinkes Kabupaten Sukabumi, Suhendar mengatakan, jumlah penderita Chikungunya di Kampung Aspol ini, jumlahnya bisa mencapai lebih dari 40 orang. Mengingat hampir seluruh warga dari 40 kepala keluarga yang bermukim di wilayah padat penduduk itu terserang Cikungunya.

"Seluruh penderita yang ada saat ini, masih dalam pengawasan kami. Diduga penyakit itu ada akibat rendahnya tingkat kebersihan lingkungan," pungkas Suhendar kepada wartawan.

(teb)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini