nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polisi Tak Komentari Permintaan Ponari Praktik Lagi

Tritus Julan, Jurnalis · Rabu 11 Maret 2009 17:18 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2009 03 11 1 200523
JOMBANG - Permintaan keluarga Ponari melalui kuasa hukumnya untuk membuka kembali praktik pengobatan, tak mendapat jawaban dari polisi. Polisi malah berdalih, polisi tak berhak menjawab permintaan itu.

Dikonfirmasi mengenai permintaan Ponari itu, Kapolres Jombang, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Tomsi Tohir mengelak untuk memberikan jawaban. Dia berdalih, masalah dibuka kembali atau tidaknya praktik pengobatan ini, bukan merupakan wewenangnya. "Jangan ke saya. Muspida yang berhak menjawab," tegas Tomsi saat dihubungi, Rabu (11/3/2009).

Ditanya soal keluarga Ponari yang tak pernah meminta polisi untuk menutup lokasi praktik, termnasuk penutupan yang terakhir, tanggal 25 Februari lalu, dia kembali tak mau berkomentar. "Saya tak mau menanggapi. Selama ini, saya bicara atas nama Muspida," tegasnya sembari meminta wartawan untuk tak memberitakan masalah ini lagi.

Sebelumnya, kuasa hukum Ponari, Akhmad Rifai mengaku, jika penutupan praktik pengobatan selama ini bukan lantaran permintaan keluarga Ponari. "Pihak keluarga hanya meminta agar polisi memberikan perlindungan, bukan menutup lokasi," tuturnya.

Seperti diketahui, sejak 25 Februari lalu, praktik Ponari ditutup total untuk kesekian kalinya. Alasan polisi saat itu, penutupan ini berdasarkan permintaan keluarga.

Sejak itu, pengamanan di Desa Balongsari ekstra ketat. Bahkan, selain warga setempat, polisi tak mengizinkan siapa pun masuk desa ini. Setiap orang yang masuk di desa ini, harus menunjukkan identitas berupa KTP. Kebijakan ini pun menuai protes dari warga yang merasa hak mereka terampas.

Tak hanya pihak keluarga saja yang tak pernah menyampaikan keinginan menutup praktik pengobatan yang menyedot puluhan ribu pasien itu. Menurut Rifai, Pemkab Jombang juga tak pernah menghalangi pihak keluarga untuk membuka kembali praktik pengobatan supranatural ini.

"Jangan sampai ada yang menghalangi. Kalau kami dilarang, kami akan menempuh jalur hukum," ancam Rifai.

(lsi.-)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini