Gak Makan Merek!

Devy Lubis, Okezone · Rabu 15 April 2009 10:30 WIB
https: img.okezone.com content 2009 04 15 285 210722 h5oN14SIZQ.jpg
Judul: KEPLESET! Gerundelan Tentang Gaya Hidup
Penulis: Regina Kencana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama: Maret, 2009
Tebal: 99 hlm
ISBN: 978-979-22-4445-8


Zaman sekarang, brand menjadi bahan pembicaraan yang menyenangkan. Sejumlah orang tak lagi membeli barang berdasarkan nilai fungsi atau manfaat, melainkan brand atau merek dagang. Begitu pentingkah brand atau merek dagang? Benarkah brand merupakan bagian krusial dan identik gaya hidup manusia zaman sekarang?

Lalu, bagaimana dengan mereka yang tak punya daya hidup? Masih pentingkah sebuah merek dagang? Regina Kencana punya jawabannya.

Arus deras informasi global melalui media cetak, digital dan elektronik mengantarkan sejumlah produk dengan merek dagang ternama ikut menggerus pasaran dalam negeri. Sebut saja Guess, Polo, Nokia, Adidas dan sejumlah merek impor lainnya. Boleh disangkal, tapi kita sudah terbiasa mendengar nama-nama itu, bukan?

Masyarakat kita terbilang sudah sadar merk (brand awareness), kendati faktor ini tidak diikuti dengan daya beli. Akibatnya, tetap ada yang tidak terlalu peduli dengan yang namanya merek. Tidak semua masyarakat kita bisa jadi penikmat. Dengan harga relatif tinggi, hanya orang yang punya duit cukup saja bisa membeli. Sementara sisanya, cukup melihat.

Dengan cerdas, Regina mencatat sejumlah brand yang ditemuinya di pasaran dalam blog. Melalui media komunikasi anyar ini, si blogger merekam barang-barang yang ditempeli brand unik. Bedanya, rekaman gambar dan tulisan bukan brand asli. Eitts, mereka juga bukan pula barang palsu, melainkan aspal (asli tapi palsu). Dari curhat lucu-lucuan itu pun lahirlah sebuah buku: Kepleset.

Siapa yang kepleset (baca: terpeleset)? Tentu saja mereka, yang kepincut merek tapi tidak mampu atau enggan membeli barang asli dengan harga selangit. Alhasil, barang aspal beredar di pasaran pun jadi pilihan. Buat beberapa orang, ini tidak masalah. Hanya pemerhati yang akan mengulik dan membuatnya jadi gelitik kritis, juga menambah wawasan tentang keberagaman gaya hidup tanpa diimbangi daya hidup.

Tidak heran, bila sejumlah kalangan menilai brand sebagai sebuah simbol status. Siapa yang kuat bayar, memakai baju merek "A", punya sepatu merek "B" dan atribut bergengsi lainnya, akan naik pangkat. Status, nilai rasa yang kemudian bisa menjadi gaya hidup masyarakat yang masih tercekik persoalan hidup lainnya: ekonomi sulit.

Nyatanya, bukan hanya faktor ?~siapa' yang kepleset, si ?~apa' juga ikut-ikutan terpeleset. Regina tidak berhenti pada perburuan merek dagang aspal seperti ReGuess, PQLQ, Es Seprit, Lasocte, dan sejumlah adilas, adidos aridas sampai addict. Ia juga ikut mencermati bahasa.

Entah sejak kapan, bahasa asing alias bahasa Inggris juga dianggap sebagai simbol status. Tak heran, bahasa ini pun dijadikan acuan. Anggap saja, semua orang paham. Selama ini, mungkin kita hanya mentertawakan atau menelan ludah saat membaca bahasa Inggris aneh di jalanan, mal atau pasar tradisional. Tapi, Regina yang lebih tanggap dengan persoalan "kepeleset lidah" ini pun mengambil gambar dan mengumpulkannya.

Dengan tag The ?~F' Word, ia menunjukkan keajaiban. Tas merek Puma disulap jadi Fuma (2009: 64). Bukan hanya itu, pemahaman ternyata tidak jadi urusan. Karena faktor tahu sama tahu, maka muncullah kata farfume (hlm. 79), fistafel (hlm. 81), lettop (hlm. 82). Sampai ada yang kepleset mencetak ?~compilation' menjadi ?~complication' (hlm. 80).

Homofon pun jadi sasaran, T-Shirt berubah T-Shert (hlm. 74); pure dalam bahasa gaul jadi pyur (hlm. 84). Dan pasti, satu ini yang paling sering kita temui: Frem + Lensa (hlm. 76). Mengutip Regina dalam buku: "Sesungguhnya memang begitulah cara membacanya."  

Kepeleset yang ditulis Regina dalam blog kemudian jadi buku, bukan cuma gerundelan atau lelucon, melainkan kenyataan. Dan Anda, pembaca, juga sering menemukannya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan bisa jadi mengkonsumsi. Buku ini, menurut saya, bukan hanya penyadaran melainkan juga bentuk perlawanan ?~berhenti mendewakan merek' yang masih resisten di sejumlah negara berkembang.

(mbs.-)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini