nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Serak Gulo,Tradisi Muslim India di Kampung Keling

Rus Akbar, Jurnalis · Rabu 27 Mei 2009 07:19 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2009 05 26 1 223123

PADANG - Da...siko bahean...kasiko da!!! suara itu terdengar dari ratusan orang yang berdiri di sebuah gang kecil yang lebarnya hanya 4 meter di depan Masjid Muhammadan, di Pasar Batipuh, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang.

Dari atap masjid yang berumur 200 tahun ini ada sekira 15 orang menghamburkan bungkusan kecil yang dibalut dengan kain warna-warni seukuran kepalan orang dewasa.

Tak peduli tua, muda, pria atau perempuan semuanya saling rebutan bungkusan yang dilemparkan dari atap masjid tersebut. Jumlah warga yang berebutan bungkusan kecil itu ada sekitar 300 orang lebih. Acara yang penuh canda tawa itu, hanya berlangsung sekira 30 menit, ditutup dengan kumandang azan Magrib dari dalam masjid.

Itulah tradisi serak gulo (tebar gula) yang dilakukan sekelompok keturunan India di Kampung Keling (hitam) Senin, 25 Mei 2009. Masjid Muhammadan adalah lokasi warga keturunan India berkumpul untuk melakukan salat bersama.

 Tradisi serak gulo telah diberlangsung selama berabad-abad di negara India,  dan masih digelar oleh keturunan India di Kota Padang setiap tahun. "Kegiatan ini kita lakukan untuk bernazar atau berniat dalam melakukan suatu pekerjaan atau membantu orang lain," kata Ketua Pengurus Masjid Muhammadan P Sahib Khalid.

Sebelum melakukan acara itu, warga yang ingin bernazar terlebih dahulu membungkuskan gula dalam sebuah kain. Ada yang berwarna putih, merah, hitam dan hijau. Setelah itu sebelum menyerahkan ke masjid, mereka terlebih dahulu melakukan wudhu dan berdoa atau menyampaikan nazarnya kepada Tuhan, agar doa mereka dikabulkan.

Setelah itu gula yang dibungkus kecil-kecil itu diserahkan kepada pengurus masjid. Masing-masing memberikan gula-gula itu sesuai kemampuan mereka. Tak ada ketentuan berapa jumlah yang harus diserahkan pada pengurus masjid.

Satu hal yang menarik untuk kegiatan bernazar ini tidak harus orang muslim saja, tapi siapa saja boleh melakukan kegiatan bernazar ini.

"Ada juga keturunan Tionghoa yang datang kesini memberi beberapa karung gula, kita juga tidak membatasi orang yang memberikan nazarnya pada kita, yang penting kan niat dan ketulusannya," tambah Sahib.

Acara yang dilakukan itu dalam rangka maulud seorang auliyah dari India bernama Sahul Hamid dari keturunan Syekh Abdul Khodir Jaelani keturunan Muhammad SAW. Acara pertama dilakukan di sebuah perkampungan kecil tempat kediaman Sahul Hamid di Nagor, Naga Patinam, di daerah Tamil Nadi, India Selatan.

"Acara awal ini ketika guru atau ulama Sahul Hamid atau orang yang memiliki kelebihan pada masyarakat setempat mendapatkan sebuah muzizat, kemudian guru Sahul Hamid melakukan acara syukuran bersama warga setempat," kata Ustaz Iskandar yang hadir dalam acara tersebut. 

Hingga sampai dimanapun keturunan India yang ada di belahan dunia kegiatan ini terus dilakukan setiap tahun. P. Sahib Khalid menambahkan bahwa kegiatan maulud ini terus dilakukan.

Setiap tahun mereka melakukan tiga peringatan maulud. Maulud nabi Muhammad SAW pada Rabiul Awal ini dilakukan dengan pengajian dalam masjid di malam hari usai salat magrib selama 12 hari. Kemudian maulud Syekh Abdul Khadir Jaelani yang dilakukan pada Rabiul Akhir selama 11 hari dan maulud Sahul Hamid pada Jumadil Uwal dilakukan selama 10 hari acara ini akan dilakukan pada malam ini sampai 10 hari.

"Dalam acara ini dilakukan pembacaan kitab perjanjian dan bukan Alquran, kitab ini berisi suatu perjanjian antara manusia dengan Tuhan yang telah diturunkan oleh Sahul Hamid," terang Sahib.

Selain itu tujuannya ini untuk lebih mendekatkan diri manusia dengan Tuhan YME, agar semua kegiatan kita selalu diberikan rezeki yang murah. Sebenarnya serak gulo ini tidak itu aja, ada juga yang memberikan emas, permata atau barang-barang yang berharga lainnya untuk dibagi-bagikan pada masyarakat. 

"Tradisi serak gulo ini yang memberikan gulanya boleh ikutan untuk mengambil gula tersebut yang dihamburkan oleh pengurus masjid. Gula yang kita berikan mungkin akan diterima orang lain sementara gula orang lain yang kita terima," terang ustaz Iskandar.

Warga yang berebutan gula itu biasanya bisa membawa pulang satu kantong plastik gula.

Keturunan India di kota Padang banyak bermukim di kawasan Pasar Batipuh atau yang lebih dikenal dengan Kampung Keling, yang bersebelahan dengan kawasan Pondok yang mayoritas didiami keturunan Tionghoa. Keturunan India ini datang ke Sumatera Barat untuk berdagang kemudian mereka menetap dan kawin dengan warga setempat.

Acara serak gulo ini diikuti oleh keturunan India dari berbagai daerah yang ada di Sumatera Barat, termasuk dari luar Provinsi, seperti Riau dan Jambi.

(fit)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini