nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menkes Luncurkan Buku Kompilasi Wawancara

Muhammad Saifullah , Jurnalis · Sabtu 27 Juni 2009 01:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2009 06 27 1 233381 5zw0v5EnFb.jpg

JAKARTA - Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari meluncurkan sebuah buku berjudul "Berkiblat Kata Hati Menggeser Tapal Batas Dunia" di Galeri Cafe Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (26/6/2009).

Hadir dalam acara peluncuran buku, ratusan penggemar Menkes yang mengatasnamakan diri SFS Fans Club serta sejumlah praktisi kedokteran. "Aktivitas ini tidak ada hubungannya dengan politik. Ini semata-mata untuk menularkan spirit perlawanan kepada para pemuda," ungkap Menkes di Jakarta.

Dalam buku setebal 119 halaman itu ditampilkan sejumlah hasil wawancara Menkes yang telah dipublikasikan di sejumlah media massa nasional. Mayoritas artikel berisi kebijakan Menkes dalam melawan rezim internasional yang menggunakan virus penyakit untuk menjajah negara-negara di dunia ketiga, serta kritiknya terhadap pelayanan kesehatan yang masih belum merata.

Singkat kata dalam buku ini Menkes digambarkan sebagai ikon perlawanan terhadap komersialisasi dunia kesehatan. "Secara garis besar buku ini memaparkan tentang silent revolution yang dilakukan Menkes melawan rezim neoliberalisme," ujar Koordinator Nasional SFS Fans Club, Andre Wahyu Maryono.

Menkes berharap agar perjuangannya melawan kekuatan asing yang mencoba menancapkan kukunya di Indonesia lewat jalur kesehatan bisa dilanjutkan para pemuda di masa mendatang. Sehingga jargon pelayanan kesehatan murah bisa terwujud. "Semoga ini bisa ditiru oleh para generasi muda," ujarnya.

Dalam sesi tanya jawab, Menkes menceritakan sebuah peristiwa penting yang terjadi pada tahun 2006 silam. Saat itu, World Health Organization (WHO) mengklaim telah terjadi penularan virus flu burung dari manusia ke manusia di Karo, Sumatera Utara. Padahal faktanya tidak.

Dalam kaitan ini, WHO mencoba menekan Indonesia agar mengikuti kebijakan mereka, yaitu mengkomersialkan obat penangkal virus flu burung. Kasus serupa juga terjadi saat skandal Namru terkuak.

"Untung saya dan Pak SBY tidak diam saja. Kalau saja kita tidak melawan, maka Indonesia bisa ditetapkan statusnya menjadi pandemi Flu Burung. Dampak selanjutnya kita bisa diembargo dunia internasional. Bayangkan saja perekonomian negara bisa ambruk," ungkapnya.

(nov)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini