Image

Jejak Rekam Noordin M Top

Muhammad Saifullah , Jurnalis · Rabu, 7 Oktober 2009 - 23:35 WIB
Sketsa wajah Noordin ketika tewas (Foto: Heru Haryono/okezone) Sketsa wajah Noordin ketika tewas (Foto: Heru Haryono/okezone)

JAKARTA - Noordin M Top awalnya hanya seorang mahasiswa biasa di Universiti Teknologi, Malaysia. Tak ada yang salah dengan pemikirannya, dari faktor garis keturunan pun dia tak memiliki darah teroris.

Hanya saja sebagai anak muda, dia sangat mengidolakan para tokoh pejuang Al Qaeda, yang berani menentang Amerika Serikat serta rezim agresor lain diberbagai belahan dunia. Seperti Iraq, Afganistan, dan Filiphina. Noordin menilai tokoh semacam Osama Bin Laden dan Abu Musab al Zarqawi patut diidolakan karena berani melawan ketidakadilan.

Secara kebetulan, di dekat kampus Universiti Malaysia di Skudai, Johor, berdiri Pesantren Lukmanul Hakiem yang dipimpin Abdullah Sungkar. Kolega Abu Bakar Baasyir itu merupakan salah seorang buronan rezim orde baru, karena pemikiran dan tindakan radikalnya.

Dikejar-kejar aparat, Abdullah Sungkar akhirnya lari ke Malaysia dan mendirikan pesantren pada tahun 1992, yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya Jemaah Islamiyah (JI) di Asia Tenggara. Pada 1993 berdirilah JI, Luqmanul Hakiem menjadi Mantiqi I, pengendali wilayah Malaysia, Brunei dan Singapura.

JI disebut-sebut berhubungan Al-Qaedah yang dipimpin Osama bin Laden, Mujahidin  Afghanistan dan Moro selama kurun waktu 1985-2000. Tetapi hubungan organisasi ini pada ideologis, bukan dalam struktur organisasi.

Karena melihat adanya chemistry dirinya dengan Pesantren Lukmanul Hakiem, Noordin yang lahir di Johor, 11 Agustus 1968 itu pun lantas memutuskan ikut belajar di sana mulai tahun 1995.

Di tempat inilah, Noordin bersama Mukhlas, Amrozi, Ali Imron, Zulkarnaen, Faturrahman al-Ghozi, Dulmatin, Imam Samudra, dan Azhari Husni, menimba ilmu dan mendapatkan software pembenar tindakan anarkistisnya melakukan berbagai aksi teror di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, serta semakin matangnya pemikiran Noordin, dia pun dipercaya menjadi seorang guru dan akhirnya diangkat menjadi Kepala Sekolah di Pesantren Lukmanul Hakiem. Total ada sebanyak 350 santri di Pesantren Lukmanul Hakiem.

(ahm)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming