nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Candi Borobudur Korban Aksi Teror Kedua

Muhammad Saifullah , Jurnalis · Kamis 15 Oktober 2009 12:50 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2009 10 15 343 265892 EBuxjYhEpF.jpg Candi Borobudur setelah dibom (Foto: dekade80.blogspot.com)

JAKARTA - Setelah insiden pembajakan pesawat Garuda DC 9 Woyla oleh anggota Komando Jihad pada tahun 1981, aksi teror lanjutan terjadi di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada 15 Januari 1985.

Sebuah ledakan cukup dahsyat menghancurkan tujuh stupa pada candi peninggalan Dinasti Syailendra itu. Peledakan Candi Borobudur hingga kini masih menyisakan misteri siapa otak pelakunya.

Memang ada nama Ibrahim alias Mohammad Jawad yang disebut-sebut sebagai dalang pengeboman. Namun sosoknya tetap misterius, karena hingga kini aparat belum berhasil meringkusnya.

Pengeboman Candi Borobudur juga disebut-sebut berkaitan dengan kasus kecelakaan ledakan bom di bus Pemudi Express di Banyuwangi pada 16 Maret 1985 dan peledakan Gereja Sasana Budaya Katolik Magelang beberapa waktu setelahnya.

Polisi lantas menangkap Abdulkadir Ali Alhabsyi dan Husein Ali Alhabsy. Keduanya dituding sebagai pelaku peledakan. Abdulkadir lantas divonis Pengadilan Negeri Malang dengan hukuman penjara 20 tahun. Husein sendiri dihukum seumur hidup sebelum kemudian mendapat grasi dari Presiden BJ Habibie. Husein sendiri menolak tuduhan atas keterlibatannya dalam peledakan Borobudur dan menuding Mohammad Jawad, sebagai dalangnya.

Dalam persidangan, jaksa menuduh bahwa tindakan pengeboman terhadap Candi Borobudur merupakan aksi balas dendam Abdulkadir dan kawan-kawan terhadap peristiwa Tanjungpriok berdarah pada 1983, yang menewaskan puluhan nyawa umat Islam.

Albdulkadir membenarkan motivasi peledakan itu sebagai ungkapan ketidakpuasannya atas peristiwa berdarah itu. Namun, keterangan itu sempat diragukan karena Mohammad Jawad, orang yang disebut Husein sebagai dalangnya, tidak pernah ditemukan oleh aparat.

Peristiwa itu juga meragukan dipandang dari konteks politik kala itu, ketika sejumlah elit politik yang bercokol di punggung rezim Orde Baru memberlakukan politik anti-Islam. Peledakan candi yang disebut satu dari tujuh keajaiban dunia itu dianggap sebagai rekayasa dari kelompok anti-Islam untuk menyudutkan kelompok Islam.

Motif itu semakin kentara karena Abdulkadir mengaku dia tidak mengetahui persis rencana pengeboman. Dia dan ketiga kawan lain pada awalnya hanya sekadar diajak oleh Mohammad Jawad untuk berekreasi. Sebelum kemudian dia berhasil dibujuk untuk mengebom Candi Borobudur. (ful)

(ahm)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini