Prof Johannes, Mantan Gerilyawan dan Ilmuwan Tersohor

Koran SI, Koran SI · Rabu 11 November 2009 13:14 WIB
https: img.okezone.com content 2009 11 11 99 274438 JvNWnkM4YL.jpg

SOSOK Prof Herman Johannes atau akrab di sapa Pak Yo, sangatlah akrab dengan Yogyakarta. Padahal, ia bukan kelahiran Kota Gudeg. Pak Yo merupakan pria kelahiran Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 28 Mei 1913, putra pasangan DA Johannes dan A Johannes Dirk.

Lekatnya nama almarhum Pak Yo dengan masyarakat Yogyakarta lantaran selain sebagai gerilyawan yang turut merebut kemerdekaan pada waktu itu, dia juga tokoh pendidikan di Kota Pendidikan. Alumnus Sekolah Tinggi Teknik Yogyakarta (cikal bakal UGM) ini merupakan Rektor (dulu Presiden UGM) kedua setelah Prof Sardjito. Di Yogyakarta namanya juga dijadikan sebuah nama jalan, tak jauh dari lokasi Kampus UGM.

Kepala Humas dan Protokoler UGM Suryo Baskoro memaparkan, Prof Herman Johannes merupakan tokoh yang turut membesarkan nama UGM dan banyak pengabdiannya yang bisa dirasakan hingga saat ini.

Dengan anugerah sebagai pahlawan nasional, secara otomatis turut membesarkan nama dan membanggakan sivitas akademika UGM. "Selain sebagai anggota pejuang gerilya yang pernah membuat dan merakit bom untuk meledakkan jembatan Kali Progo pada saat perjuangannya, dia juga dikenal dan dikenang sebagai tokoh pendidikan dan ilmuwan besar UGM. Pengabdian untuk negara juga sepenuhnya dilakukan beliau, mungkin ini yang menjadi pertimbangan negara memberikan penghargaan tersebut," ujar Suryo.

Dalam buku yang ditulis pada 2004 lalu dengan judul Biografi Rektor Rektor UGM, Herman Johannes diangkat menjadi Rektor UGM pada 1 Oktober 1961 dalam kondisi sakit dan sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta. "Saat itu Prof Yo sengaja dipanggil oleh Presiden Soekarno untuk dilantik. Setelah dilantik, Pak Yo kembali ke rumah sakit," ujarnya.

Saat memimpin UGM, banyak hal yang dilakukan dengan caranya sendiri. Ia memperluas fakultas pertanian, kehutanan, menjadi tiga fakultas, yaitu fakultas pertanian, fakultas teknologi pertanian, dan fakultas kehutanan.

"Ia juga mendirikan fakultas geografi, semula namanya Jurusan Ilmu Bumi di Fakultas Sastra dan Kebudayaan (UGM)," katanya. Selain itu, pembaruan dilakukan pada sistem pengajaran, dari sistem pengajaran bebas menjadi sistem semester terpimpin. Mata pelajaran per tingkat dan per semester ditentukan satuan jam. Selain itu, Pak Yo memperkenalkan wisuda bagi mahasiswa yang lulus sarjana. UGM sendiri melakukan wisuda pertama kali pada 19 September 1963.

Ketua Senat Akademik UGM Prof Sutaryo saat dimintai kesan tentang Pak Yo hanya menjawab singkat, tapi sangat padat. "Pak Johannes dikenal dengan kesederhanaannya, saintis, kreatif, kejuangan, pribadi yang tanpa pamrih dalam melakukan pengabdian," ungkapnya.

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini