nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Para Kepsek Dinasihati Agar Hindari Ritual Telanjang

Tritus Julan, Jurnalis · Rabu 25 November 2009 16:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2009 11 25 340 279154 xqTm5iVCsf.jpg Rapat para kepsek.(foto Trtitus J/SI)

MOJOKERTO - Ruang pertemuan Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto siang tadi dipadati sejumlah kepala sekolah. Secara bergiliran, kepala sekolah SD, SMP dan SMA mendapat wejangan terkait adanya empat oknum guru yang telah melakukan ritual telanjang bulat di pasar.

Pertemuan itu adalah langkah antisipasi agar kejadian memalukan itu tak terulang lagi kepada para guru. Mereka diyakinkan bahwa perintah melakukan ritual telanjang bulat dengan tubuh dicat warna hitam serta berkeliling pasar itu  bukan perintah dari pejabat Pemkab Mojokerto.

Ritual heboh sekaligus menggelikan itu pertama kali terjadi Sabtu pekan lalu lalu. Tiga guru terlanjur melakukan perintah dari seseorang melalui telepon yang mengaku sebagai Asisten I (Pemerintahan) Pemkab Mojokerto, Akhmad Jazuli. Sesuai perintah, tiga guru itu melakukan ritual telanjang dengan tubuh dicat hitam serta menggunakan anting uang logam.

Tiga guru SD itu berjenis kelamin laki-laki, dua di antaranya melakukan ritual gila itu di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto, sekira pukul 17.00. Sementara satu guru lainnya melakukan ritual, yang dianggap untuk membuang sial Bupati Mojokerto Suwandi dalam pencolannnya di Pilkada 2010 itu, dilakukan di Pasar Legi Mojosari.

Bisa dibayangkan, ritual nyeleneh ini tentu saja membuat seisi pasar heboh. Ritual tak wajar ini kembali terulang dilakukan salah satu guru SMP, Selasa  petang kemarin di Alun-Alun Kota Mojokerto. Guru itu, menaburkan beras kuning dan mengitari Alun-Alun yang mulai dipadati pada pedagang kaki lima (PKL).

Ternyata, tak hanya empat orang guru ini saja yang menerima perintah menyimpang dari penelepon yang menggunakan nomor 081259273104 dan 081387159334 itu. Puluhan kepala sekolah lainnya juga nyaris menjadi korban pelaku yang masih belum diketahui identitasnya tersebut.

Mashudi, Kepala SMAN Pacet, mengaku sempat mendapatkan perintah untuk melakukan ritual ini. Ia diminta si penelepon untuk menyeiapkan dua guru laki-laki bertubuh tegap untuk melakukan ritual. Dengan iming-iming, si pelaku ritual akan dihadiahi kenaikan pangkat malam itu juga dari Bupati Suwandi. Selesai ritual, akan diberi jabatan.

"Tapi kalau menolak, jabatan kepsek akan dicopot," tutur Mashudi menirukan perintah si penelepon.

Namun, Mashudi tak begitu saja percaya dengan si penelepon. Perintah itu langsung ia cek ke Dinas Pendidikan (Dindik) setempat. Dan ternyata, dari Dindik maupun pihak pemkab sendiri tak pernah memberikan perintah melakukan ritual kesetiaan terhadap bupati itu. "Tepatnya hari Minggu (22/11) pukul 09.00 pagi perintah itu saya terima," ucapnya.

Tentu saja, ritual yang mencatut nama Bupati Suwandi itu membuat sejumlah pejabat di Pemkab Mojokerto kebakaran jenggot. Bahkan, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Mojokerto Budiyono langsung menegaskan perintah itu dengan menerbitkan surat edaran yang ditujukan kepada sejumlah pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan Camat.

Selain Suwandi, pejabat yang kebakaran jenggot dengan pelaku perintah gelap ini adalah Akhmad Jazuli. Karena namanya dicatut sebagai orang yang memerintahkan para guru dan kepala sekolah ini.

"Ini sudah keterlaluan. Apalagi itu dilakukan kepada para pendidik. Bayangkan saja beban moral yang ditanggung para korban ini," ungkap Jazuli.

Dia mengaku, empat guru yang telah melakukan ritual telanjang itu saat ini dalam kondisi yang syok. Dikatakan, keempat guru ini mengaku tak sadarkan diri saat melakukan perbuatan memalukan itu. Mereka baru sadar dan merasa malu setelah ritual itu dilakukan. "Seperti kena gendam," tukas mantan Kepala Dindik Kabupaten Mojokerto.

(fit)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini