Memaknai Haji & Qurban

Minggu 29 November 2009 13:10 WIB
https: img.okezone.com content 2009 11 29 230 280008

Menunaikan ibadah haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. Haji merupakan rukun Islam ke-5, wajib melaksanakan haji bagi yang mampu, mengikuti 4 rukun lainnya-membaca dua kalimat shahadat, shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, dan melaksanakan zakat. Berhaji, seperti juga pelaksanaan memotong hewan qurban, tak hanya mengandung dimensi spiritual, hubungan seseorang dengan Allah, tetapi juga berdimensi sosial.

 Pelaksanaan haji dan qurban-yang dilaksanakan pada bulan haji-merupakan suatu keharusan bagi umat yang mampu secara ekonomi. Karena itu, keharusan itu sangat jelas tidak hanya merupakan hubungan antara umat dan penciptanya, tetapi juga dengan sesama manusia. Orang-orang yang telah melaksanakan perjalanan ke Baitullah (berhaji) tentunya memiliki tuntutan moral, tidak hanya berubah baik secara pribadi, tetapi juga peduli atau makin peduli pada sesama.

Begitu juga dengan masyarakat yang mampu, tetapi tidak sedang pergi haji, atau belum menunaikan haji karena alasan belum mendapat kuota (kesempatan), kepada mereka diminta berqurban. Maksudnya jelas, membantu para tetangga atau masyarakat yang tidak mampu. Melalui qurban setiap tahun, masyarakat berpunya tidak saja berupaya mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga kepada sesama.

Makna haji dan qurban sangat jelas. Karena itu, haji tidak hanya terkait dengan diri saudara-saudara kita dari berbagai penjuru dunia sesama Islam yang sedang berkumpul di Tanah Haram Mekah dan sekitarnya, untuk memenuhi panggilan Allah, tetapi juga bagi kita semua yang berada di Tanah Air.

 Musim haji tahun 2009 atau tahun 1430 Hijriyah ini merupakan kesempatan bagi kita kembali "merenung" lebih dalam. Apabila para calon haji yang wukuf atau "berdiam", berpasrah diri, memperbanyak ibadah dengan membaca Al-Qur'an, berdo'a, zikir, bertasbih di Padang Arafah, pada 9 Dzulhijah, atau 26 November 2009 hari ini, maka kita di Tanah Air dapat mengisinya dengan berpuasa sunnah, kemudian esok hari, melaksanakan shalat Idul Adha dan berqurban. Puasa Arafah, 9 Dzulhijah, sangat dianjurkan bagi orang-orang yang tidak sedang menjalankan ibadah haji.

Melaksanakan haji dan qurban, ibadah yang diwariskan Nabi Ibrahim dalam perjuangan sepenuh kemampuannya guna menanamkan ajaran tauhid, tentunya tak seharusnya kita maknai dengan sikap duniawi, pamer. Adalah sangat merugi jika ibadah haji dimaksudkan untuk menaikkan gengsi, atau memotong hewan qurban dengan tujuan para tetangga memuji bahwa kita adalah orang mampu. Ibadah tersebut seharusnya lillahi ta'ala, tulus karena mengharap rida Allah Swt semata, bukan karena ingin dipuji.

Kita berharap ibadah haji, juga ibadah memotong hewan qurban, tidak hanya menambah keimanan terhadap Allah, penguasa jagat raya. Tetapi alangkah baiknya kesempatan itu dijadikan sebagai momentum meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Terlebih bagi para petinggi di negeri ini jelas pada tempatnya jika kekuasaan yang mereka miliki dimanfaatkan untuk memperbaiki kondisi dengan sasaran utama menyejahterakan rakyat Indonesia.

Karut-marut yang terjadi di negeri ini butuh perhatian, menanti tindakan para pemimpin. Tidak hanya perseteruan Polri, Kejaksaan Agung di satu sisi, serta KPK di sisi lain, yang harus diselesaikan, tetapi banyak persoalan lain butuh sentuhan. Momen Idul Adha diharapkan mampu mengingatkan pemimpin bangsa, untuk betul-betul berjuang sekuat tenaga agar bangsa dan negara bisa terangkat, bukannya menjadikan rakyat sebagai sapi perahan, menjadi alat semata. Lalu setelah berkuasa atau mendapat posisi penting, lupa tanggung jawab. Hanya mementingkan pribadi, keluarga, dan kelompok.

Toni Nasution

Jl. Ampera Raya No. 28, Jakarta Selatan  

Email: [email protected]

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini