Kini Perbatasan adalah Beranda Depan, Bukan Halaman Belakang Rumah

Jum'at 04 Desember 2009 16:33 WIB
https: img.okezone.com content 2009 12 04 230 281838

Perbatasan wilayah suatu negara, kini bukan lagi merupakan halaman belakang pekarangan rumah yang jarang dilirik oleh para tamu, tapi sudah menjadi beranda depan. Oleh karenanya, perbatasan sering menjadi sengketa antar dua negara.

 

Sengketa perbatasan tersebut, misalnya berupa klaim beberapa hektar tanah di perbatasan Republik Indonesia dan Republik Timor Leste yang hingga kini belum tuntas. Hal ini seperti dikatakan oleh Sekretaris Satu Kedutaan Besar Republik Indonesia di Dili, Timor Leste, Victor Josef Sambuaga di Dili yang menjelaskan, bahwa sengketa perbatasan kedua negara itu di tiga lokasi perbatasan darat.

 

Yang sempat ramai dibicarakan adalah sengketa di wilayah Citrana di enklave Oekusi. Oekusi sendiri adalah wilayah Timor Leste yang berada dalam provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Daerah Citrana seluas lebih dari 120 hektar, termasuk Desa Naktuka, merupakan wilayah delta sungai yang subur untuk pertanian. Selain itu, wilayah yang masih disengketakan adalah Oben atau Bijael Sunan dan pulau di Sungai Malibaka. Daerah itu berada di perbatasan Kabupaten Belu dan Kabupaten Timor Tengah Utara dengan Timor Leste.

 

Ketegangan antar kedua negara sempat terjadi, misalnya, karena warga di Naktuka dilarang oleh orang tertentu membuat kartu tanda penduduk Republik Indonesia. Patroli perbatasan Tentara Nasional Indonesia di sekitar Oben/Bijael Sunan juga pernah didatangi ratusan orang yang bersikap tidak bersahabat.

 

Bagaimanapun juga, kita memang mengupayakan penyelesaian damai untuk tidak berkonflik sesuai aspirasi masyarakat. Hal seperti itu sudah disepakati dalam Provisional Agreement tahun 2005 lalu antara Menteri Luar Republik Indonesia Negeri Hassan Wirajuda (saat itu) dan Menteri Luar Negeri Timor Leste Jose Ramos Horta. Perundingan itu masih terus dilakukan guna mencapai kesepakatan.

 

Saat ini, di wilayah tersebut ada empat titik perlintasan orang dan barang antara Indonesia dan Timor Leste, yakni di Mota Ain-Batugade, Mota Masin-Salele, Wini-Sakato, serta Napan-Bobometo. Selain itu, masih ada enam pintu perlintasan yang belum dibuka, yakni di Turicain-Tunubibi, Dilomil-Memo, Laktutus-Belulik Leten, Haumeniana-Passabe, Oepuli-Citrana, serta Lakmars.

 

Kondisi di sana sudah diketahui secara umum, bahwa pintu perlintasan paling ramai terdapat di Mota Ain-Batugade, yang merupakan wilayah Kabupaten Belu, NTT, dan Distrik Bobonaro, Timor Leste. Setiap hari puluhan kendaraan travel dan truk melintasi daerah perbatasan itu.

 

Dengan demikian, hubungan dagang Indonesia-Timor Leste berjalan baik selama sepuluh tahun terakhir. Banyak warga negara Republik Indonesia bekerja dan membuka usaha di pelbagai bidang di Timor Leste. Malah dalam data KBRI Dili tahun 2008, disebutkan tenaga kerja asal Indonesia menempati urutan pertama dengan 420 orang, yang diikuti Republik Rakyat China sebanyak 127 orang dan Filipina (74 orang).

 

Oleh karena itu, perlu peningkatan hubungan bilateral antar kedua negara, sehingga kesejahteraan masyarakat di sekitar perbatasan lebih baik. Denmgan demikian, rasa nasionalisme dan cinta tanah air akan terpupuk dari beranda depan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

I MADE ADIYAKSA

Jl. Wira Bhakti VI Jatiwaringin, JAKARTA TIMUR

[email protected]

 

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini