nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mata Air Muncul di Tanah Tandus, Malah Dianggap Keramat

Solichan Arif, Jurnalis · Senin 28 Desember 2009 14:31 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2009 12 28 340 288743 wjzQiv8GZu.jpg (foto: solichan A)

BLITAR - Sebuah mata air muncul dengan tiba-tiba di atas sawah bertanah tandus di Desa Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar.

 

Ny Usrek (48) dan Ny Kasemi (60), warga setempat, yang kala itu tengah bercocok tanam, tak menyangka jika perbincangan mereka sehari sebelum penemuan mata air itu, ternyata menjadi kenyataan.

 

Panasnya udara siang yang membakar kulit, saat menyiangi rumput liar disela tanaman jagung, membuat ibu satu anak ini mengeluh.

 

Kepada Ny Sukemi, bibinya, Ny Usrek berkata, “Seandainya ada mata air di dekat sawah, tentu tanaman jagung tidak mudah kering,” harapnya. Keinginan itu mengingat pengairan sawah di lereng perbukitan yang bertanah kapur tersebut, hanya mengandalkan curah hujan. Sawah seluas sekitar satu hektar tersebut merupakan milik perangkat desa setempat yang bernama Yudha.

 

“Kami tahu ada rembesan menyerupai mata air saat kembali bekerja menyiangi rumput. Air itu muncul dari bekas congkelan sabit kami,” tutur Ny Usrek, Minggu (27/12/2009).

 

Bagi warga setempat, munculnya mata air di sawah bengkok desa yang bertanah tandus itu, awalnya dianggap sebagai peristiwa alam biasa.Tak jelas siapa yang memulai, dalam tiga hari terakhir, banyak orang berbondong-bondong menuju lokasi mata air. Mereka datang dengan membawa kaleng, botol atau alat apapun yang bisa berfungsi sebagai penampung air.

Mereka yang tidak hanya dari Blitar, namun Tulungagung, Kediri dan sekitarnya ini, tidak mempedulikan lokasi mata air yang berada sekitar 1 kilometer dari jalan utama aspal. Untuk sampai di titik mata air dadakan tersebut, setiap orang harus melalui jalan makadam berbatu Desa Sumberdadi.  

Desa Bakung dan Desa Sumberdadi berada di wilayah Kabupaten Blitar sebelah selatan. Sekitar 35 kilometer dari Kota Blitar.Para pengunjung ini meyakini jika air tersebut bisa menyembuhkan berbagi penyakit.

 

“Yang membuat saya kaget, mereka meyakini air ini bisa menyembuhkan penyakit rematik, tipus bahkan diabetes dan stroke. Soal itu saya sendiri kurang tahu. Karena saya tidak memiliki keahlian mengobati penyakit,” tutur Ny Usrek.

Sehari Rp3 juta

 

Oleh kerabat mereka yang bernama Sinto (50), rembesan itu diperbesar. Saat ini lokasi inimenyerupai kubangan dengan diameter sekitar 1 meter, dengan kedalaman sekitar 0,5 meter, yang mengecil hingga 30 cm.

 

Penggalian itu dengan maksud untuk memperbanyak suplai air. Sebab, jumlah pengunjung yang datang semakin lama, bertambah banyak. Menurut Ny Kasemi, para pemburu berkah air itu, setiap hari bahkan hingga pukul 03. 00 WIB dini hari.

 

Pihak desa maupun Ny Usrek tidak menetapkan tarif atas pengambilan air ini. Mereka hanya memasang kotak amal sebelum pengantre masuk lokasi mata air.

Yang mengejutkan, dalam 3 hari, kotak sukarela ini terisi uang Rp3 juta. Rata-rata uang yang masuk dalam sehari sebesar Rp1 juta. Kalau sampai 3 hari ini jumlah pengunjung mencapai ribuan. “Isi kotak ini desa yang mengatur,” paparnya.

 

Oleh warga setempat, mata air ini disepakati bernama Sumber Rondo Kembar (Sumber Janda Kembar). Sebab, Ny Usrek dan Ny Kasemi sama-sama berstatus janda. Keduanya yang dipercaya pihak desa untuk melayani pengunjung untuk mendapatkan air.

 

Saat ini airnya kita batasi. Untuk setiap pengunjung maksimal 40 milliliter. Kami khawatir air ini akan mengering, terang Ny Kasemi. Seperti halnya Ny Usrek, Ny Kasemi juga mengaku tidak tahu darimana orang-orang itu memperoleh kabar mengenai khasiat air.

 

Pasalnya, sejak penemuan mata air, dirinya hanya sekali memberikan air kepada seseorang warga Wlingi. Laki-laki asal Wlingi itu mengaku bermimpi didatangi pria tua dan diminta untuk mencari air di daerah Bakung. Air itu rencananya untuk mengobati sakit rematik menahun orang tuanya.

 

“Saya lupa namanya. Orang Wlingi itu memang datang sampai 2 kali dan katanya berkat air itu orang tuanya sembuh dari rematik,” ujarnya.

 

Sementara Ny Martiani dari Pucanglaban Tulungagung mengaku sudah membuktikan khasiat air Sumber Rondo Kembar. Berkat minum air itu, sakit tipus suaminya berangsur-angsur sembuh. “Saya datang lagi untuk mengambil air,” ujarnya.

 

Pengakuan serupa disampaikan Martono dari Srengat, Kabupaten Blitar yang mengatakan penyakit linu-linunya membaik setelah dibasuh air Sumber Rondo Kembar. Bahkan seseorang telah membawa air itu ke Kalimantan untuk mengobati penyakit katarak dan rabun.

 

Seperti diketahui, meski antrian hingga mencapai ratusan orang, para pengunjung tetap terlihat tertib. Sumiran, perangkat desa setempat mengatakan, sebagian hasil kotak sukarela tersebut masuk ke desa. Sedangkan sisanya untuk Ny Usrek dan Kasemi serta membayar keamanan.

 

Mengingat, antrean tetap bisa berjalan tertib, pihak desa tidak sampai mendatangkan tenaga pengamanan. “Hanya hari pertama sempat ada petugas kepolisian. Sekarang cukup diwakili pemuda desa yang mengatur parkirnya,” ujarnya singkat.

(fit)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini