nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

100 Hari KIB II, Separuh Gagal Separuh Berhasil

Yavet Ola Masan, Jurnalis · Minggu 07 Februari 2010 17:37 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2010 02 07 339 301232

JAKARTA – Pemerintah mengklaim telah berhasil mencapai target-target dalam 100 hari masa kerja KIB II, sebaliknya pihak oposisi menyatakan KIB II gagal mencapai target.

 

Menurut pengamat politik dari UI, Arbi Sanit menilai kinerja 100 hari Pemerintahan SBY-Boediono rumit karena tenggelam oleh isu-isu besar lain seperti mafia peradilan dan kasus Century.

 

Tapi meskipun tenggelam akibat isu-isu ini, menurut dia kinerja 100 hari KIB II harus dilihat dari dua aspek, pertama dari kinerja pemerintahan dan kedua teknis kementerian.

 

“Teknis boleh dikatakan berhasil, tapi kinerja politik kita lihat beberapa kegagalan antara lain segi kepemimpinan. Termasuk kepemimpinan presiden, wakil presiden, menteri koordinator, dan menteri-menteri,” kata Arbi Sanit dalam sebuh diskusi di Jalan Lombok 38 Menteng, Jakarta, Minggu (7/2/2010).

 

Arbi menilai, Presiden SBY lambat dan terlalu ragu-ragu mengambil keputusan sementara Wapres Boediono dianggap membawa masalah karena dipersoalkan dalam kasus Century.

 

"Menko tidak sesuai penempatan kapabilitasnya masing-masing dan menteri-menteri bingung menjalankan tugas-tugasnya,” ujar Arbi.

 

Masalah kebijakan pemerintah, Arbi mengatakan hanya satu program yang eksplisit itu pro terhadap rakyat, yaitu masalah UKM.

 

“Jadi (100 hari pemerintahan SBY) separuh berhasil dan separuh gagal,” katanya.

 

Menyinggung soal koalisi yang mulai gamang karena isu skandal Century, menurut Arbi hal itu karena koalisi tidak memiliki platform bersama. Kolisi bersifat ad hoc untuk tujuan tertentu yang bisa pecah sewaktu-waktu.

 

“Harusnya ada platform bersama, malah kalau perlu dibuat organisasi koalisi,” katanya.

 

Arbi juga mengomentari isu reshuffle kabinet yang menurutnya, jika seumpama pertandingan, pemerintah dan oposisi saat ini posisinya sama kuat atau satu sama.

 

Oposisi itu mewacanakan pemakzulan untuk merugikan pemerintah, lalu dibalas Demokrat dengan mendesak presiden mereshuffle kabinet, jadi posisinya satu-satu,” jelasnya.

(fit)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini