Mahasiswa UMY Pelajari Senam Otak Atasi Autisme

Satria Nugraha, Trijaya · Senin 08 Februari 2010 11:37 WIB
https: img.okezone.com content 2010 02 08 99 301376 S8WmUUdDOD.jpg http://ullyenz.blogspot.com/

YOGYAKARTA - Secara psikologis, autisme dipahami sebagai keadaan seseorang yang lebih banyak berorientasi kepada pikiran subjektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Sehingga, seringkali penyandang autis selalu sibuk dengan ‘dunia’-nya sendiri. Sayangnya, untuk biaya berobat atau terapi autisme ini saat ini relatif mahal antara Rp750 ribu hingga Rp3 juta per bulan.

Mahalnya biaya terapi inilah yang kemudian melatarbelakangi sekelompok mahasiswa Kedokteran Umum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KU-UMY) yakni Revani Dewinta Lestarin, Yunita Puji Lestari, Muhammad Nor Tauhid, dan Ragil Adi S, memilah terapi untuk mengurangi gejala autisme yang tidak menghabiskan biaya terlalu besar.

“Autisme memang merupakan gangguan neurobiologis yang menetap. Gejalanya tampak pada gangguan bidang komunikasi, interaksi dan perilaku,” kata Revani, di kampus UMY.

Walaupun gangguan neurobiologis tidak bisa diobati, tapi gejala-gejalanya bisa diminimalisir dengan menggunakan terapi. Di Indonesia, pada tahun 2009 diperkirakan ada 475 ribu penyandang autis. Sedangkan di wilayah DIY ada 357 anak autis yang tersebar di 61 SLB di lima Kabupaten di Provinsi DIY.

”Ada terapi yang murah dan bisa digunakan bukan hanya di SLB saja, namun bisa juga dilakukan di rumah yaitu senam otak atau Brain Gym,” ungkap Revani.

Terapi senam otak ini katanya bisa menjadi salah satu solusi karena senam merupakan teknik elektrik yang membantu otak dan tubuh bekerja lebih efektif secara bersamaan. Gerakan senam otak juga meningkatkan komunikasi otak, ada tiga komunikasi yakni komunikasi otak kanan dengan otak kiri, otak depan dan otak belakang, serta otak atas dan bawah. Komunikasi ini berguna untuk meningkatkan efisiensi dari informasi sensorik yang paling berguna bagi autis.

”Dalam senam otak pun bervariasi seperti membuat coretan ganda dalam waktu bersamaan, menggerakkan anggota tubuh menggerakkan secara bergantian pasangan kaki dan tangan yang berlawanan, mengaktifkan tangan,” ujarnya.

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini