nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gong si Bolong Ditemukan Misterius di Ciganjur

Marieska Harya Virdhani, Jurnalis · Kamis 11 Februari 2010 16:53 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2010 02 11 345 302757 lW3RpyYadF.jpg Gong si Bolong, gong yang menjadi legenda warga Depok, Jawa Barat, bersama pewaris ketujuh Buang Jayadi. (Foto: Marieska Harya Virdhani/okezone)

Layaknya legenda pada umumnya, Gong si Bolong juga diselimuti kemisteriusan. Pasalnya, Gong si Bolong dianggap bukan buatan manusia. Menurut tuturan, gong yang bolong itu ditemukan secara misterius di Ciganjur.

Konon, Gong si Bolong ditemukan pada tahun 1549, saat Kelurahan Tanah Baru masih berbatasan langsung dengan Kelurahan Ciganjur, Jakarta Selatan. Saat itu hanya sedikit masyarakat yang mendiami wilayah hutan, rawa, lahan pertanian, serta kolam-kolam ikan.

Okezone berkesempatan untuk sedikit menelisik cerita-cerita di balik legenda warga Depok ini dengan menemui pewaris ketujuh Gong si Bolong, yang tidak lain pemimpin Sanggar Gong si Bolong, Buang Jayadi. Dalam kesempatan itu, Buang mulai menuturkan awal mula penemuan Gong si Bolong.

Suatu malam, Kampung Ciganjur dikejutkan dengan suara-suara gamelan yang merdu seolah ada pagelaran pesta. Akhirnya setelah ditelusuri oleh seorang tokoh yang alim dan soleh bernama Jimin, dengan terlebih dahulu memohon petunjuk secara lahir bathin serta puasa, menemukan seperangkat gamelan yang tersusun rapi di hutan kecil yang terdapat aliran sungai Krukut, Kampung Curug, Tanah Baru.

Jimin pun merasa takjub dan mencari tahu siapa pemilik seperangkat gamelan yang terdiri dari gong, gendang yang kemudian dikenal dengan Si Gledek, dan Bende. Karena tak menemukan pemiliknya, Jimin berinisiatif membawa gong yang bolong dan mengeluarkan cahaya berkilauan itu pulang ke rumahnya dan merawatnya.

Setelah menemukan Gong si Bolong, Jimin dan keluarganya sempat mengalami kejadian aneh. Sekujur badan Jimin dan keluarganya mengalami gatal dan bengkak. Alhasil, Jimin menyerahkan temuannya itu ke Anim sebagai generasi kedua yang merawat Gong si Bolong.

Namun Anim sendiri, kemudian menyerahkan perawatan Gong si Bolong ke orang lain. Anim merasa warisan yang diperolehnya dari Jimin bertentangan dengan syariat Islam. "Atas saran-saran akhirnya diserahkan kepada Pak Anim, namun karena Pak Anim kurang mengerti dan menganggap hal tersebut bertentangan dengan Islam, Pak Anim menyerahkannya kepada Pak Galung atau Pak Jerah," tandasnya.

Kini Gong si Bolong berada dalam perawatan Buang sebagai pewaris generasi ketujuh, yakni Buang. Awalnya, Buang menuturkan, dirinya tak pernah berharap mendapatkan warisan Gong si Bolong yang saat itu masih dalam perawatan generasi keenam, H Bahrudin.

Saat itu, sekira tahun 1950, Buang yang masih bersekolah di Sekolah Rakyat Pondok Cina, mulai menjadi tukang pikul Gong si Bolong hingga belajar memainkan. Buang mempelajarinya selama delapan tahun demi alasan ekonomi keluarganya. "Karena dulu ekonomi keluarga susah, jadi saya mau bermain Gong si Bolong, dapat honor 1,5 perak sudah bisa bayaran sekolah," tuturnya.

Namun tak dinyana, Buang malah menjadi generasi ketujuh yang dititipi gong yang melegenda itu. Buang mengaku menerima wasiat dari generasi sebelumnya, H Bahrudin. "Karena saat itu saya yang dianggap paling mengerti, dan paling tahu bagaimana merawat gong tersebut. Setelah H Bahrudin meninggal, baru dilimpahkan kepada saya tahun 2007, itu pun belum sah, baru sekedar kata-kata," ujar Buang.

Tiap generasi penerus yang bersedia merawat Gong si Bolong, memiliki cara yang sama untuk merawat alat musik tersebut. Karena ditemukan secara misterius, perawatan terhadap Gong si Bolong pun memerlukan perawatan khusus. Perawatan khusus tersebut bahkan

selalu dilakukan oleh setiap generasi penerus pada malam Jumat dan tak boleh lupa. Namun Buang menolak menyebutkan secara detail perawatan khusus tersebut lantaran khawatir dianggap musyrik.

Jika tidak dimainkan, Gong Si Bolong kini disimpan di sebuah gudang penyimpanan di samping rumah Buang. Setiap malam Jumat, Buang selalu menyempatkan diri untuk merawat Gong Si Bolong agar tetap terjaga sampai kepada anak cucu.

Berikut generasi yang pernah mewarisi Gong si Bolong.

1. Pak Jimin dari Ciganjur, Jakarta Selatan

2. Pak Anim dari Kampung Curug, Beji   

3. Pak Galung dari Tanah Baru, Beji

4. Pak Saning dari Tanah Baru, Beji

5. Nyai Asem dari Taha Baru, Beji

6. H Bahrudin dari Tanah Baru, Beji

7. Buang Jayadi dari Tanah Baru Beji

(hri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini