Dosen UGM Kembangkan Teknologi Konversi Karbondioksida Menjadi Etanol

Satria Nugraha, Trijaya · Senin 22 Februari 2010 13:57 WIB
https: img.okezone.com content 2010 02 22 99 305969 zbOxHZZSEo.jpg

YOGYAKARTA - Metanol dan etanol merupakan senyawa alkohol yang paling populer akhir-akhir ini, khususnya di era pencarian sumber energi terbarukan sebagai antisipasi terhadap habisnya cadangan minyak bumi yang diperkirakan terjadi 200 tahun ke depan.

Terkait dengan hal itulah maka beberapa peneliti dari jurusan Kimia FMIPA UGM  seperti Prof Drs Jumina, PhD, Dr Dwi Siswanta, Meng, serta Ir Arief Budiman, MS, D.Eng dari jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik tengah mengembangkan teknologi konversi karbondioksida menjadi etanol.

 

Menurut Jumina, pengembangan konversi karbon tersebut dilakukan dengan menggunakan pereaksi Grignard yang diteruskan dengan reduksi menggunakan senyawa boran. Teknologi ini cukup efisien sebagaimana ditunjukkan oleh konversi totalnya yang mencapai 60-70 persen.

 

“Sebagai alternatif, etanol juga dapat diperoleh darikarbondioksida melalui perlakuan dengan pereaksi Grignard diteruskan dengan esterifikasi dan reduksi," kata Jumina, Senin (22/2/2010).

 

Jumina menambahkan meskipun terdapat satu langkah ekstra, namun teknologi alternatif ini memberikan konversi total sedikit lebih tinggi (65-75 persen) dibandingkan proses yang pertama. Seperti halnya teknologi konversi kabondioksida menjadi metanol, teknologi konversi karbondioksida menjadi etanol ini juga sedang diajukan hak patennya di Ditjen HKI.

 

“Awal tahun 2010 ini pengajuan hak paten sudah kita lakukan," jelasnya.

 

Etanol atau bioetanol sejauh ini telah dimanfaatkan secara langsung sebagai pengganti premium baik dalam bentuk murni maupun dalam bentuk campuran dengan premium yang dikenal sebagai gasohol. Metanol merupakan reagen pokok yang harus direaksikan dengan trigleserida sawit, jarak, jagung, maupun triglesireda hewani dalam pembuatan biodiesel yang merupakan pengganti solar.

 

“Metanol dalam bentuk murni juga telah digunakan sebagai bahan bakar fuel cell," kata Jumina.

 

Tahun 2009, paten pengolahan karbondioksida menjadi metanol telah diberikan kepada George Olah dari Univesity of Southern California-AS. Karena jasanya mengkonversi karbondioksida menjadi metanol ia meraih nobel Kimia tahun 1994.

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini