Dosen UMY & UNS Kembangkan Briket Limbah Sagu Aren

Satria Nugraha, Trijaya · Selasa 09 Maret 2010 11:25 WIB
https: img.okezone.com content 2010 03 09 99 310585 UoknLXhajX.jpg Kampus terpadu UMY di Yogyakarta

YOGYAKARTA - Barang-barang limbah (waste) atau barang-barang buangan dari industri sering sekali hanya berujung di tempat pembuangan. Padahal beberapa di antaranya seperti limbah sagu aren atau kulit kayu aren ternyata masih dapat dipergunakan serta memiliki nilai ekonomi.

Hal ini telah dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Ir Sudarja, MT  dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama kedua rekannya Novi Caroko, ST (UMY) dan Dr Kuncoro Diharjo ST MT dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang melakukan penelitian tentang pemanfaatan limbah sagu aren atau kulit kayu aren sebagai bahan bakar alternatif.

“Limbah sagu aren potensial dijadikan sebagai bahan bakar alternatif karena dari penelitian kami terbukti memiliki kalor cukup tinggi, yaitu rata-rata sekira 7.200 kcal/kg, yang berarti memenuhi standar Jepang maupun standar Amerika,” ungkapnya di kampus UMY.

Sudarja menjelaskan proses pembuatan briket bahan bakar limbah sagu ini tidak terlalu sulit. Diawali dengan memotong-motong kayu aren menjadi 3-4 cm. Kemudian potongan kayu itu dipanaskan dalam alat pembuat arang yang disebut Retort selama 4 jam.

”Dalam proses pembuatan arang ini, limbah sagu aren mengeluarkan asap yang sangat banyak sehingga ketika limbah sagu arang sudah dalam bentuk briket sudah tidak lagi mengeluarkan asap yang banyak,” tambahnya.

Setelah menjadi arang, limbah sagu aren tadi dihaluskan menjadi serbuk. Bisa dilakukan secara manual dengan cara ditumbuk, maupun menggunakan mesin. Kemudian serbuk arang yang sudah halus disaring dengan menggunakan saringan dengan kekasaran tertentu. Setelah itu, serbuk arang tersebut dicampur dengan air dan perekat (pati) yang sudah direbus. Perekatnya juga dapat menggunakan tetes tebu. Selanjutnya campuran tersebut dicetak dengan mesin pres.

“Bentuknya sesuai selera dan cetakan yang ada, bisa silinder, balok, bola ataupun bentuk yang lain sepanjang kita punya cetakannya,” ungkapnya.

Diharapkan dengan hasil penelitiannya ini ke depan bisa menjadi bahan bakar alternatif jika suatu saat persedian bahan bakar seperti minyak tanah menipis bahkan habis, sedangkan gas elpiji cenderung mahal maka masyarakat harus mampu memanfaatkan setiap limbah tak berguna menjadi bahan bakar alternatif sebagai penggantinya. “Salah satunya adalah Briket limbah sagu aren ini,” tandasnya.

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini