Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Nahdliyin Salawatan di PBNU Minta PKB Dikembalikan

Amalia , Jurnalis-Rabu, 17 Maret 2010 |12:59 WIB
Nahdliyin Salawatan di PBNU Minta PKB Dikembalikan
Lambang Partai Kebangkitan Bangsa. (Foto: dok okezone)
A
A
A

JAKARTA - Puluhan Nahdliyin berbaju PKB mendatangi Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk meminta PBNU mengembalikan PKB seperti sedia kala.

Nahdliyin yang mengatasnamakan dirinya Forum Warga Nahdliyin Cinta PKB ini menggelar salawatan di depan lobi Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (17/3/2010).

Aksi unjuk rasa ini bertujuan meminta pengembalian PKB ini dimasukkan dalam materi Muktamar PBNU yang akan berlangsung di Makassar pekan depan tersebut. PBNU harus bersikap tegas terhadap konflik PKB yang seolah tak ada ujungnya ini.

Lebih lanjut menurut mereka, sikap PKB pimpinan Muhaimin Iskandar terhadap skandal Bank Century yang kontra produktif dengan suara rakyat dan konstituennya, merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanat ulama dan nahdliyin.

Dengan mengibarkan bendera PKB Pro Gus Dur, mereka menginginkan PBNU mengembalikan kedaulatan Abdurrahman Wahid dan kedaulatan PKB berdasarkan pada muktamar Semarang 2005, kemudian mengambil langkah-langkah untuk menyatukan kembali PKB sebagai wadah politik warga NU.

Unjuk rasa yang berlangsung secara tertib ini juga membawa spanduk yang bertuliskan, "PKB Anak Kandung NU", "Kembalikan kehormatan Gus Dur yang telah dirampas Muhaimin dan kroninya", dan seperangkat gendang sebagai hiburan.

Sejauh ini beberapa perwakilan pendemo menaiki lantai 4 Gedung PBNU, bertemu dengan pengurus PBNU untuk menyampaikan aspirasinya.

(Hariyanto Kurniawan)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement