Cerita Makam Keramat di Dekat Kantor KPK

Fitra Iskandar, Okezone · Kamis 15 April 2010 14:45 WIB
https: img.okezone.com content 2010 04 15 340 323032 soxnOjQl7d.jpg Ilustrasi.(dok:okezone)

JAKARTA – Aksi represif Satpol PP dalam penggusuran makam Mbah Priok memicu kecaman sejumlah kalangan, namun masyarakat juga diminta tidak mengkeramatkan makam para ulama secara berlebihan.

Pandangan ini dikemukakan penasihat Bamus Organisasi Betawi Rusdi Saleh, menanggapi kerusuhan dalam penggusuran makam Mbah Priok di Koja, Rabu kemarin.

“Kalau kata anak muda sekarang sih, hari gini masih fanatik sama arwah yang sudah mati, hari gini harus tidak berfikir mitos,” seloroh Rusdi saat berbincang dengan okezone, Kamis (15/4/2010).

Dia bercerita, makam-makam keramat di Jakarta cukup banyak. Dulu pada 1970-an penggusuran makam keramat juga pernah dilakukan di daerah Kuningan, dekat lokasi yang sekarang dijadikan Kantor KPK.

Saat itu lurah setempat tidak terlalu mengindahkan kekeramatan makam tersebut, penggusuran untuk pembuatan jalan itu pun dilakukan.

Apa yang terjadi? Setelah makam digali ternyata tidak ditemukan kerangka atau jasad, yang ada hanya boneka yang terbuat dari rangkaian uang-uang sen.

“Setelah terbongkar tidak ada tulang yang ada boneka dari duit sen. Itu lurahnya sendiri yang cerita sama saya,” kisah Rusdi.

Sebab itu, dia menduga dulu sejumlah makam keramat sengaja diciptakan oleh Belanda agar masyarakat percaya kepada mitos, sehingga bisa digunakan untuk kepentingan Belanda.

Bagaimana dengan makam Mbah Priok, atau Habib Hasan bin Muhammad al Haddad, ulama yang merupakan salah satu penyebar agama Islam di Jakarta itu. “Tapi saya tidak mengatakan yang di Priok itu mitos,” ujarnya meluruskan.

Penggusuran lahan makam ini menurutnya bukan lah hal yang tabu, namun penanganannya perlu diperhatikan agar tidak melukai hati masyarakat.

Pemindahan makam bisa dengan upacara yang khidmat dan relegius.Makam juga bisa diperbaiki, seperti makam tokoh Betawi Mughni yang ada dekat Mega Kuningan.

“Makam dipugar, jadi keluarga masih bisa ziarah. Tetap jadi situs, itu tidak masalah, yang penting ada negosiasi, ganti rugi. Masa hal seperti itu harus ada korban tiga,” katanya.

(fit)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini