nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Inilah Kronologis FPI Serang Kontes Waria

Frida Astuti, Jurnalis · Jum'at 30 April 2010 18:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2010 04 30 340 328149 uHFIhKC2Vi.jpg Massa Front Pembela Islam saat beraksi

JAKARTA - Puluhan waria dari 32 Provinsi di Indonesia pagi itu, sekira pukul 10.30 WIB tengah menikmati coffe break di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat. Mereka berkumpul untuk menghadiri seminar hukum dan HAM serta malam harinya akan digelar kontes waria.

Tak lama setelah coffe break, acara dilanjutkan kembali dengan pemaparan dari beberapa nara sumber. Tapi tiba-tiba pintu didobrak paksa oleh sekelompok massa sambil teriak-teriak menyebut nama Tuhan.

"Allahu Akbar.. Allahu Akbar," begitu teriakan salah seorang yang diketahui dari Front Pembela Islam (FPI) Kota Depok. Mereka tidak hanya berteriak tetapi melempar gelas, piring dan taplak meja ke arah peserta.

Melihat aksi anarkis tersebut, puluhan peserta panik dan berusaha menyelamatkan diri. Bahkan, beberapa peserta terkena lemparan gelas dan keseleo.

"posisinya tadi kami sedang mendengarkan narsum berbicara, mereka mendobrak pintu. Kursi, meja, piring dan gelas yang di atas meja berjatuhan. Kita yang di ruangan berusaha melarikan diri. Kita tidak tahu mereka bawa benda apa saja karena kejadiannya begitu cepat. Saya terkena lemparan gelas," cerita salah seorang peserta dari Kalimantan Timur Nadin saat jumpa pers di Kantor Komnas Ham, Jakarta, Jumat (30/4/2010).

 

Pintu masuk di Ruang Roejito, Hotel Bumi Wiyata hanya satu sehingga menyulitkan para peserta untuk menyelamatkan diri. "Kami sempat dorong-dorongan untuk keluar. Bahkan salah satu nara sumber kami ditampar gara-gara membela kami," tuturnya.

Nadin dan peserta lainnya juga menyesalkan sikap aparat kepolisian yang berada di lokasi yang hanya berdiam diri dan tidak melakukan usaha apapun untuk meredam aksi FPI tersebut. "Mereka (FPI) benar-benar anarkis," cetus Nadin.

Atas peristiwa ini, para peserta tidak akan melanjutkan acara dan akan kembali ke daerah masing-masing. Meski begitu, mereka tidak akan berhenti belajar tentang hukum dan HAM meski hanya melalui internet.

"Melalui pembelajaran ini kita ingin menunjukkan sisi positif kita. Tapi mereka melarang kita, bagaimana kita mau pintar. Selama ini stigma masyarakat tentang waria adalah waria bodoh. Dari sini kan kita mau melakukan perubahan," ujar peserta dari DKI Jakarta Seruni Mahendra.(bul)

(hri)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini