Share

Perang

Minggu 05 September 2010 12:35 WIB
https: img.okezone.com content 2010 09 05 95 370276 1N6QFsV4kR.jpg Sarlito Wirawan Sarwono. (Foto: Sindo)

PADA 2008 saya menjadi pensyarah pelawat (dosen tamu) di Universitas Malaya. Karena itu, selama satu semester (hampir tujuh bulan), saya dan istri saya bermukim di Kuala Lumpur (KL).

Ketika itu pun suasana hati bangsa Indonesia sudah mulai geram kepada orang Malaysia. Pasalnya macam-macam, mulai dari kasus Ambalat, TKW dan TKI yang diperlakukan tidak manusiawi sampai pembajakan lagu dan kesenian. Maka ketika saya ditunjuk memimpin suatu penelitian (sebagai salah satu tugas pensyarah pelawat), saya memilih untuk menyurvei pendapat mahasiswa Indonesia (UI dan Unpad) dan Malaysia (UM) tentang perang internet antara web site “Malingsia” melawan blog “Indonsial”.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Hasil penelitian itu cukup mencengangkan karena walaupun kedua situs internet itu saling memaki dan menghina dengan kata-kata yang paling kasar dalam bahasa masing-masing, responden mahasiswa dari kedua negara tenangtenang saja.

Mahasiswa Malaysia memang agak jengkel dengan ulah sementara TKI yang banyak mereka temui di KL, tetapi tidak terpikirkan oleh mereka untuk berperang melawan Indonesia (bahkan temanteman dosen saya yang orang Malaysia asli paling hobi shopping ke Tanah Abang atau ke Bandung setiap kali ada liburan). Mahasiswa Indonesia terlebih lagi tak acuhnya. Karena hampir tak pernah bertemu orang Malaysia, mereka juga tidak bersikap apa-apa kepada bangsa tetangga ini. Mereka tahu tentang pembajakan dan masalah TKI/TKW, tetapi ya sudah, sebatas tahu saja dan tidak ada kelanjutannya.

Walaupun demikian, pada akhir laporan penelitian itu (dipresentasikan pada kongres Asia Pacific Sociological Association di Denpasar, 2009), saya dan tim peneliti saya memprediksi bahwa kalau polemik antarsitus itu berkembang ke wilayah media massa terbuka (khususnya TV dan media cetak), hal tersebut bisa memicu reaksi-reaksi emosional negatif antarkedua bangsa. Dan itulah yang sekarang terjadi. Dipicu oleh peristiwa penangkapan nelayan Malaysia oleh petugas pengawas perikanan Indonesia dan penangkapan petugas perikanan Indonesia oleh patroli Polis Diraja Malaysia, terjadilah lagi peningkatan hawa panas di Indonesia terhadap Malaysia.

Suasananya sama seperti ketika ada invasi Malaysia ke Pulau Ambalat dan klaim Malaysia terhadap batik, lagu Rasa Sayange, dan lain-lain. Namun, kali ini reaksi geram masyarakat lebih menyala-nyala karena dikompori oleh media massa yang menayangkan LSM Bendera melemparkan tinja ke Kedubes Malaysia di Jakarta dan demo massa di Malaysia terhadap KBRI di Kuala Lumpur serta ulasan para pakar dan politisi tentang kegeraman mereka terhadap Malaysia yang dianggap tidak tahu adat, bahkan kepada Pemerintah RI sendiri yang dinilai lamban tak tidak tegas (walaupun Kemlu RI sudah melayangkan 10 surat kepada Kemlu Malaysia dan Presiden SBY sudah melayangkan satu surat ke PM Najib Tun Razak).

Hari Senin yang lalu, saya bahkan menonton tayangan TV tentang simulasi jika terjadi perang antara RI dan Malaysia. Seorang pakar diundang oleh stasiun TV itu untuk menganalisis kira-kira mana yang akan keluar jadi pemenang. Persis seperti komentator sepak bola meramalkan siapa yang menang dalam pertandingan antara Manchester United dan Fulham dalam Kompetisi Liga Inggris. Yang mengherankan, penonton banyak yang percaya walaupun ramalan si pakar itu lebih banyak salahnya daripada benarnya.

Pendek kata, situasi bangsa Indonesia akhir-akhir ini seakanakan sudah siap perang. Namun, siapa sih yang akan benar-benar berperang? TNI kita tenang-tenang aja, tuh. Para petinggi Mabes TNI paling-paling hanya senyum sinis saja menyaksikan analis perang di TV yang merasa dirinya lebih hebat dari para jenderal kedua negara (sama seperti komentator sepak bola yang merasa lebih tahu dari pelatih kedua kesebelasan). LSM Bendera mau perang? Bagaimana caranya mereka menyeberang ke Malaysia? Berenang? Sambil membawa bambu runcing?

Dari mana dana untuk membeli senjata dan logistik? Bagaimana mengorganisasikan massa yang begitu banyak yang akan berperang? Kelompok teroris saja yang hanya terdiri atas beberapa puluh orang, ketika merencanakan untuk melaksanakan ofensif, mereka mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka berlatih di Aceh. Dulmatin sudah survei ke lapangan beberapa bulan sebelumnya dan Ubeid berfungsi sebagai bendahara kelompok. Komando dan sumber dana ada di tangan ABB, karena itu ketika ABB tertangkap, semua operasi mereka bisa dilumpuhkan polisi. Jadi tidak mungkin orang hari ini melempar tinja, besok sudah mau melempar granat.

Namun, nafsu kita, bangsa Indonesia, untuk berperang tampaknya sangat tinggi. Sedikit-sedikit perang! Sedikit-sedikit perang! Entah sudah berapa kali dibuka pendaftaran milisi Islam yang mau dikirim ke Lebanon atau Palestina untuk membela ikhwan-ikhwan di sana yang terzalimi. Namun, ya sudah, hanya sebatas mendaftar-daftar saja yang diliput televisi ––banyak juga yang mendaftar, loh. Sesudah itu gakada apa-apa lagi karena untuk menyelenggarakan latihan baris-berbaris saja memerlukan dana yang tidak sedikit untuk konsumsi para relawan. Jadi, kesimpulannya, semangat perang kita melawan Malaysia saat ini tidak jauh-jauh dari semangat tawuran antarsekolah, antargeng motor atau antarsuku di Papua.

Alias perang sporadis yang motivasinya hanya pelampiasan amarah atau mempertahankan gengsi. Lain sekali halnya dengan semangat perang kita di zaman konfrontasi melawan Malaysia (1964– 1966). Di masa itu, semua orang serius bersemangat “Ganyang Malaysia” di bawah pimpinan Panglima Tertinggi ABRI Bung Karno yang memerintahkan “Dwikora” (Dwi Komando Rakyat). Maka bukan hanya ABRI yang bersiaga, tetapi juga rakyat jelata. Setiap sore Lapangan Merdeka (dulu Lapangan Ikada) dipenuhi mahasiswa berbagai kampus yang berlatih barisberbaris, berlari, tiarap, bergulingguling di tanah sambil membawa senapan-senapan kayu.

Di Fakultas Psikologi UI saja (di mana saya kuliah waktu itu), yang mahasiswanya tidak banyak, ada satu orang mahasiswa (Harry Victor Darmokusumo) dan satu asisten dosen (alm Iman Santoso) yang dikirim ke garis depan Kalimantan untuk membantu TNKU (Tentara Nasional Kalimantan Utara) guna melawan Malaysia. Apalagi kalau kita tengok sejarah Perang Dunia II. Negara-negara adidaya dalam perang itu dipimpin oleh pemimpin-pemimpin besar yang dipuja bangsanya. Jerman punya Hitler. Penerbang-penerbang Jepang ber-kamikaze (bunuh diri dengan menerjunkan pesawat terbangnya ke kapal-kapal musuh) demi loyalitasnya kepada Teno Haika dan taat kepada komando Jenderal Hideki Tojo.

Inggris punya PM Winston Churcil dan AS dipimpin oleh Presiden Franklin D Roosevelt dan Jenderal Mc Arthur. Bahkan di abad-abad sebelumnya, suatu negara yang beradidaya militer selalu punya pemimpin yang tangguh dan dikagumi oleh pengikutnya. Dua abad yang lalu, Angkatan Laut Inggris merajai lautan, memenangi pertempuran melawan armada Prancis di bawah Napoleon karena dipimpin oleh seorang Laksamana Lord Nelson yang gagah berani, yang akhirnya gugur di perang laut Trafalgar (1805). Bagaimana dengan kesiapan NKRI sekarang untuk berperang?

Pakar di televisi yang saya sebutkan di atas menganalisis kekuatan TNI dan tentara Malaysia dengan membandingkan kekuatan persenjataan masing-masing (tank, kapal terbang, kapal laut, personel). Padahal, di zaman Trikora, Belanda takluk kepada Indonesia dan Irian Barat kembali ke pangkuan RI (1962) walaupun kekuatan militer Belanda jauh di atas Indonesia. Laksamana Jos Sudarso tewas di pertempuran Laut Arafuru, tetapi Bung Karno tetap berseru, “Maju terus, pantang mundur! Onward no retreat!!” Semangat itu terbukti berhasil menaklukkan senjata tentara Belanda. Jadi, yang penting untuk memenangi perang adalah kepemimpinan yang tangguh dan dihormati seluruh bangsa (bukan hanya tentara).

Kalau kita meninjaunya dari sudut ini, Indonesia akan kalah dari Malaysia. Mereka bagaimanapun juga taat kepada Raja dan setia kepada negara (termasuk dalam dasar negara mereka), termasuk yang non-Bumiputera. Adapun orang Indonesia, melalui media massanya, setiap hari menjelekjelekkan Presiden SBY dan pemerintah, melecehkan orang lain dan tidak percaya kepada siapa-siapa kecuali kepada dirinya sendiri.

Pokoknya bangsa Indonesia saat ini bukanlah bangsa yang bersatu- kita-teguh (versi Bung karno) atau bersama-kita-bisa (versi SBY). Selama kita bermentalitas seperti ini, jangankan Malaysia, penyelundup narkoba dan pembawa ideologi radikal bisa menghancurkan bangsa ini, sekalipun tanpa perang! (*)

Sarlito Wirawan Sarwono

Guru Besar Fakultas Psikologi UI

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini