Image

"SBY Jubir Indonesia atau Malaysia?"

Misbahol Munir, Jurnalis · Senin, 6 September 2010 - 02:12 WIB

JAKARTA- Kapasitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menyampaikan pidato menyikapi memanasnya hubungan Indonesia dengan Malaysia di Mabes TNI beberapa waktu lalu dipertanyakan.

Itu karena dalam salah satu kalimatnya terdapat penekanan bahwa Indonesia harus santun dalam menyelesaikan konflik kedua negara lantaran sudah terbiasa menjadi juru damai di kawasan ASEAN.

Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana menegaskan santun adalah suatu keharusan dalam pergaulan internasional. Tapi hal itu bukan berarti Indonesia tidak bisa bersikap tegas, lugas, dan jelas.

Dia mencontohkan, Presiden Barack Obama bisa memerintahkan angkatan bersenjatanya masuk ke tempat-tempat konflik di dunia, tapi pada saat bersamaan dia bisa memposisikan diri sebagai menjadi juru damai.

“Jadi pertanyaan saya, Presiden ini juru bicara siapa, RI atau Malaysia,” tanyanya di sela acara dialog aktivis muda Indonesia di Hotel Nikko, Jakarta Pusat, Minggu (5/9/2010) malam, menyoroti redaksional pidato SBY yang menyebutkan bahwa Indonesia.

Hikmahanto menyadari penuh bahwa opsi perang bukanlah pilihan terbaik. Sebab bila Indonesia mengawali perang maka akan didiskreditkan negara-negara lain di dunia. Seperti dalam kasus Irak menyerang Kuwait.

Yang menjadi sorotannya adalah letak keberpihakan pemerintah dalam konflik ini. Karena dalam pendahuluan pidatonya, Presiden menyampaikan betapa Indonesia memiliki kepentingan besar di Malaysia. Baik dalam hal penempatan TKI, pelajar, maupun investasi bisnis lainnya.

Kondisi ini, kata Hikmahanto, seharusnya dilihat secara objektif dari dua aspek. Di satu sisi Indonesia memang memiliki kepentingan besar dengan Malaysia. Begitu pula sebaliknya.

“Melihat fakta harus dari dua sisi. Ada dua juta TKI di sana, kalau tidak ada mereka Malaysia akan kesulitan. Investasi Malaysia di Indonesia juga sungguh besar. Seharusnya Presiden mengatakan, Malaysia ini diuntungkan. Saya menyayangkan, Presiden seolah-olah menyampaikan ketergantungan kita kepada Malaysia, bukan sebaliknya,” paparnya.

Hikmahanto khawatir bila Indonesia terus-terusan bersikap ramah, maka akan kehilangan kewibawaannya. Negara-negara tetangga, sambung dia, dengan entengnya akan berkata,”Indonesia ini tidak bisa membedakan antara ramah dan bodoh.”

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming