nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Karut Marut Pewaris Tahta Kekaisaran Jepang

Fajar Nugraha, Jurnalis · Senin 13 September 2010 10:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2010 09 08 18 371421 zfDKXpqyBu.jpg Foto: Ist

JAKARTA – Masalah pewaris tahta Kekaisaran Jepang terus menjadi bahan pembicaraan. Hal ini terjadi karena putra mahkota Kaiser Jepang memiliki seorang putri. Padahal dalam aturannya, kaisar Jepang haruslah berjenis kelamin pria.

Putri Aiko, yang juga memiliki gelar Putri Toshi-no-miya Aiko Naishinno merupakan anak tunggal dari pasangan putra mahkota Naruhito dan istrinya Masako. Aiko lahir pada 1 Desember 2001 lalu.

Nama Aiko sendiri memiliki arti dalam tulisan kanji yang berarti “cinta” dan “anak” serta memiliki arti luas “seseorang yang mencinta makhluk lain”.  Sementara gelar Putri Aiko sendiri memiliki arit “seseorang yang menghormati orang  lain”. Gelar resmi Putri Aiko akan hilang saat dirinya menikahi rakyat jelata.

Seperti sudah lahir untuk mendobrak tradisi, pemilihan nama Aiko sendiri dilakukan orang tuanya bukan dari Kaisar Jepang saat ini Akihito. 

Kelahiran Putri Aiko sendiri menimbulkan perdebatan di Jepang mengenai perlu tidaknya merubah Undang-undang Kekaisaran tahun 1947. 

Dalam undang-undang tersebut sistem pewaris tahta bersifat agnatic primogeniture (hanya pewaris lelaki yang bisa naik tahta), menjadi equal primogeniture yang memungkinkan tahta crisantium dapat diwarisi oleh anak perempuan.

Jepang sendiri sempat dipimpin oleh delapan kaisar perempuan dalam sejarahnya. Namun kalangan ahli konservatif bersikeras jika kaisar perempuan sifatnya hanya sementara. 

Para ahli ini mengatakan, jika tradisi pewaris tahta laki-laki harus tetap dipertahankan di Abad 21 ini. (Dikutip dari Wikipedia dan berbagai sumber) 

(faj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini