Image

Mimpi Besar dari Subway MRT Jakarta

Dadan Muhammad Ramdan, Jurnalis · Selasa, 5 Oktober 2010 - 11:49 WIB
Desain MRT Jakarta (Ist) Desain MRT Jakarta (Ist)

JAKARTA - Bisa dikatakan nyaris tak ada kota di dunia ini yang seperti Jakarta. Salah satu kota super padat di muka Bumi. Sayangnya, Jakarta tidak memiliki sistem transportasi massal yang efektif. Alhasil, warga kota yang dulu bernama Batavia ini terbiasa membuang uang dan waktunya hanya untuk bermacet-macetan di jalan.

Memang sekarang sudah beroperasi Transjakarta atau busway. Namun itu tak banyak membantu dalam mengurangi tingkat kemacetan. Sama halnya dengan jalur kereta api yang sudah lama beroperasi, belum bisa diandalkan. Proyek tranportasi lainnya, seperti waterway atau monorail malah mangkrak.

Saat ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai serius merintis mass rapid transit (MRT) berupa kereta bawah tanah atau subway. Proyek MRT rencananya akan dibangun sepanjang 14,5 Km.

Awalnya, jumlah stasiun MRT dengan rute Lebak Bulus–Dukuh Atas terdiri dari 12 stasiun, dengan empat stasiun di bawah tanah dan delapan stasiun elevated. Empat stasiun di bawah tanah itu terdapat di Istora Senayan (Ratu Plaza), Bendungan Hilir, Setiabudi, dan Dukuh Atas.

Sedangkan delapan stasiun elevated yakni mulai dari Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, H Nawi, Blok A, Blok M, Sisingamangaraja, dan Senayan. Tambahannya, satu stasiun yang akan ditempatkan di depan Masjid Al Azhar, Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru.

Jika MRT terwujud, jarak tempuh Lebak Bulus-Dukuh Atas hanya 30 menit. Lelang pembangunan fisik akan dilakukan akhir November 2010. Direncanakan, subway akan beroperasi pada 2016. Dengan kapasitas angkut yang mencapai 153.000 penumpang per hari, MRT diharapkan mampu mencapai 339.000 penumpang per hari pada 2020.

Proyek ini tidak murah dan mudah. Tapi padat modal dan teknologi. Nilai total proyek MRT mencapai Rp10,264 triliun, yang dibiayai dari pinjaman Japan Bank for International Cooperation (JBIC) sebesar Rp8,359 triliun, APBD Rp651 miliar, dan APBN Rp1,254 triliun. Dana tersebut digelontorkan kepada Pemprov sebagai hibah dan pinjaman, sedangkan dana dari APBN untuk menutupi beban pajak.

Direktur Fungsi Korporasi dan Perencanaan PT MRT Jakarta Eddi Santosa mengatakan, pembebasan tanah merupakan titik awal pembangunan MRT rute Lebak Bulus-Dukuh Atas sepanjang 14,5 km. "Pembebasan tanah oleh Pemprov DKI Jakarta. Insya Allah akhir tahun ini untuk depo Lebak Bulus sudah selesai," paparnya.

Menurut Eddi, keberadaan MRT sangat penting untuk kelancaran transportasi dalam kota. Selama ini, jarak tempuh dari Lebak Bulus ke Dukuh Atas mencapai dua jam ketika waktu sibuk. Jika menggunakan MRT, jarak tempuh hanya sekitar 30 menit. "Kalau tahap pertama rute Lebak Bulus-Dukuh Atas selesai, lalu diteruskan dengan tahap dua yang akan menyambung ke Kota," tambahnya.

Sekretaris Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta Priyadi Priyautama menyatakan, dengan sistem integrasi maka penumpang tidak perlu susah-susah lagi bila ingin pindah dari satu jalur ke jalur yang lain.

Dengan adanya integrasi ini, maka penumpang kereta bawah tanah yang ingin melanjutkan perjalanan ke tujuan lain dapat menggunakan kereta api loopline atau sebaliknya. Rencananya, Stasiun Dukuh Atas akan menjadi stasiun terpadu yang menghubungan KRL, MRT, Busway, dan kendaraan umum lainnya.

Direktur Utama PT MRT Jakarta Tribudi Rahardjo berharap seluruh stakeholder mendukung realisasi proyek transportasi massal tersebut. Pihaknya bertekad mekanisme kerja di MRT akan dilakukan secara transparan sehingga tidak menimbulkan kecurigaan publik.

Sementara itu kalangan pengusaha menganggap proyek MRT sudah menjadi kebutuhan penting untuk mengatasi masalah lalu lintas, khususnya kemacetan saat ini. "Karena ini (MRT) sudah menjadi kebutuhan penting untuk Ibu Kota saat ini," ungkap Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa.

Tingkat kemacetan di Ibu Kota, kata dia, sudah sangat memprihatinkan. Hal ini diakui Erwin karena pengalamannya selama ini yang dirasa sangat mengganggu aktivitasnya, yang juga berpengaruh terhadap dunia usaha dan perekonomian Indonesia. "Dibutuhkan solusi-solusi mass transport seperti MRT yang bisa memecahkan masalah dari kemacetan yang ada," ujarnya.

(ram)

  • TAG :

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini

Live Streaming