nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bertindak Jujur untuk Meraih Prestasi

Minggu 24 Oktober 2010 11:22 WIB
https: img.okeinfo.net content 2010 10 23 367 385673 vTvqxCFwyC.jpg Firman Raditya. (Dok pribadi)

MACAN Asia yang sedang hibernasi. Itulah gambaran kondisi sepak bola Indonesia saat ini. Pada 1938 Indonesia pernah merupakan negara Asia pertama yang mengikuti kompetisi Piala Dunia, saat ini masih membawa nama Hindia Belanda. Sedikit menorah para era 60 hinga 80-an Indonesia menjuarai beberapa kali kejuaran tingkat ASEAN maupun Asia.

Bahkan saat itu permainan Thailand dan Singapura jauh tertinggal oleh Indonesia pada. Pada 1991 di Sea Games Manila, merupakan yang terakhir kalinya Indonesia menikmati sebagai jawara sepak bola.

19 tahun berlalu semenjak saat itu prestasi Timnas Indonesia semakin meredup seperti seekor singa yang tertidur panjang. Pada tahun ini di kejuaraan Piala AFF U-16 26 september lalu Indonesia menempati posisi juru kunci setelah dikalahakan 2-0 oleh negara tetangga yang baru berdiri Timor Leste. Beberapa minggu setelahnya Indonesia dihantam oleh Uruguay 1-7 dalam laga persahabatan. Bahkan sebelumnya pada Sea Games 2009 Indonesia takluk dengan Vietnam yang saat itu dianggap sebagai negara yang belum lama merdeka.

Hasil ini semakin nyata membuktikan bahwa sepak bola Indonesia tengah berada dalam titik nadir. Apakah para pejabat PSSI di senayan menyadari situasi ini? Apakah para pejabat PSSI yang membela Nurdin sekuat tenaga dalam Kongres sepak bola Nasional (KSN) mengerti dengan situasi ini? Apakah para pengurus PSSI yang membela Nurdin saat KSN apakah sadar bahwa sepak bola Indonesia sudah bagaikan telur diujung tanduk.

Hal penting yang harus direnungi adalah, sikap tidak jujur dan buruknya sistem kepemimpinan dalam PSSI. Sudah menjadi rahasia umum bahwa semenjak dahulu tim muda Indonesia sering diisi oleh pemain yang umurnya dimanipulasi, memang hal ini mendatangkan prestasi secara instan. Bisa dilihat bahwa tahun 1980-an Indonesia menjuarai beberapa turnamen sepak bola.

Memang dengan memanipulasi umur dapat meraih hasil dengan instan, tetapi pemain yang dimanipulasikan umurnya saat bermain ke level Timnas seperti lesu dan Timnas pun menjadi tidak bergairah seperti sedang berpuasa juara.

Mungkin hal ini adalah timbal balik dari hukum alam. Di mana suatu kebohongan pasti tidak akan berkah untuk dilanjutkan. Jika tradisi ketidakjujuran ini terus dilanjutkan PSSI maka kita pun paham mengapa prestasi PSSI saat ini tidak beranjak naik dan akan terus terpuruk.

Dengan sumber daya yang kotor dan penuh kebohongan maka tidak akan pernah terukur dengan akurat kualitas Indonesia. Siapa pun yang melatih Indonesia pasti akan kesulitan untuk membawa Indonesia juara. Bahkan seorang pelatih sekaliber Peter White yang sudah bolak-balik membawa Thailand juara tidak mampu mendongkrak prestasi Indonesia.

Oleh karena itu kembali ke kekalahan beruntun Timnas Indonesia semoga mendapat hikmah yang bisa diambil. Semoga para pejabat PSSI sadar dan segera berbenah untuk memperbaiki diri. Semoga kedepannya Timnas Indonesia tidak lagi diisi dengan pemain - pemain yang penuh kepalsuan identitas sehingga para pejabat dan Pembina PSSI bisa mengetahui kualitas sesungguhnya dari Timnas Indonesia. Dengan mengetahui kualitas sesungguhnya para pengurus PSSI dapat mengetahui kelemahan dan arah perbaikan yang sesuai dengan Timnas Indonesia agar langkah ke depannya terarah dan pasti.

Dengan tahu keaadaan sebenarnya pengurus dapat mengetahui keadaan sesunguhnya Timnas Indonesia seperti telur di ujung tanduk. Semoga dengan memanfaatkan momen yang kurang baik ini dapat menjadi evaluasi kita bersama agar menuju ke arah yang lebih baik agar kita tidak dipandang sebelah mata dan bendera Merah Putih dapat berkibar di kancah sepak bola dunia.

Firman Raditya

Mahasiswa Agribisnis angkatan 2008

Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB

Institut Pertanian Bogor

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini