Share

UGM Sosialisasikan Tehnik Bertani Tanpa Boros Air

Cuk Sahana, Okezone · Kamis 28 Oktober 2010 18:10 WIB
https: img.okezone.com content 2010 10 28 373 387497 cb43vegK17.jpg Ilustrasi: ist.

YOGYAKARTA - System of Rice Intensification (SRI) dikenal bisa meningkatkan produksi pertanian sekaligus menjaga kelestarian lingkungan, karena menghemat penggunaan air.

Keunggulan tersebut mendorong civitas akademika Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggandeng para petani di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk mengembangkan SRI.

Dosen Jurusan Teknik Pertanian Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo, M.Eng, menerangkan, UGM telah mendampingi setidaknya 300 petani se-DIY dalam mengembangkan SRI. Selain mendampingi para petani, UGM juga fokus pada penelitian-penelitian keunggulan SRI yang melibatkan dosen maupun mahasiswa.

Keunggulan SRI, antara lain menghemat penggunaan air dan bibit, serta produksi lebih melimpah. Dia mencontohkan, bibit padi berusia 10 hari sudah bisa digunakan. SRI pun tidak memerlukan banyak bibit, namun padi yang dihasilkan lebih banyak. Sementara sistem tanam non-SRI lebih boros benih, dengan usia bibit sekira 20 hari.

"Ada sekira 42 varietas padi yang dikembangkan menggunakan SRI di antaranya Maros, Batas Gadis, Pandanwangi, Code, Sarinah, dan Somali. Sejauh ini produksi cukup bermutu dan penghasilan petani melimpah,” papar Sigit di sela-sela Pengumuman Pemenang Lomba SRI dan Panen Bersama SRI Demplot, Dusun Jering VI, Sidorejo, Godean, Sleman, Kamis (28/10/2010). Kegiatan ini merupakan kerja sama antara FTP UGM dengan Forum Petani SRI Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak.

Petani dari Karangmojo, Sunaryo, juga mengakui SRI memiliki banyak keunggulan. Dia memaparkan, jika menggunakan SRI bibit padi yang diperlukan hanya sekira 0,5 kg atau 1 kg, sementara sistem lain membutuhkan sekira 10 kg.

Hasil panen juga meningkat drastis ketika menggunakan SRI. 7,5 kg benih padi bisa menghasilkan hingga 1 ton padi kering giling.  Hasil berbeda didapat pada nonSRI; 15 kg benih padi hanya menghasilkan sekira 7-8 kwintal padi kering giling. "Dari situ bisa dilihat keunggulan SRI. Para petani di Gunungkidul banyak yang sudah memanfaatkannya karena meningkatkan penghasilan,” kata juara pertama tingkat Kabupaten Gunungkidul dalam lomba tersebut.

Lomba SRI dan Panen Bersama SRI digelar setiap tahun. Tahun ini ada 220 peserta ikut serta, terdiri dari 63 petani asal Bantul, 30 orang dari Gunungkidul, 74 petani asli Kulon Progo, 35 petani dari Sleman Barat, dan 18 petani dari Sleman Timur. Gelar juara diberikan untuk tiap kabupaten. Gelar juara umum tingkat provinsi diberikan kepada petani asal Temon Kulonprogo, Sugeng. "Produksi padi juara pertama bisa mencapai 12,88 ton padi,” kata Ketua Pelaksana Forum petani SRI DIY Nuryanto.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak, Kementerian Pekerjaan Umum Ir. Bambang Harono. Dipl. HE., mengatakan, SRI mampu mengurangi konflik sosial antarpetani ketika membagi air. SRI juga membantu program pemerintah dalam hal ketahanan pangan, serta sangat bersahabat dengan cuaca maupun iklim di Indonesia.

"Harusnya dengan momentum peringatan hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober hari ini, generasi muda bisa terus mengembangkan SRI karena cukup bersahabat dengan alam dan membantu program pemerintah dalam ketahanan pangan,” kata Bambang.

SRI pertama kali diterapkan di Madagaskar sekira 20 tahun lalu. Dalam perkembangannya, SRI ternyata mendapat sorotan dan perhatian dunia. Buktinya, serombongan turis asing asal Amerika Serikat, Nepal, Italia, Afrika Selatan, Belanda, China, Korea, Taiwan, dan Jepang bertandang ke Dusun Jering VI Sidorejo Godean Sleman untuk menyaksikan secara langsung lahan pertanian organik dengan SRI.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini