Share

Control System, Integrasikan Antisipasi Bencana Alam

Minggu 14 November 2010 09:05 WIB
https: img.okezone.com content 2010 11 13 367 392895 iZvUhIfvtQ.jpg Diagram blok penanganan bencana (Lanjar Sidik P)

DALAM upaya mengelola bencana alam yang terjadi di tanah air kita, ada baiknya kita mencontoh Jepang. Secara intensitas, bencana alam (terutama gempa dan tsunami), di Jepang jauh lebih sering terjadi bila dibandingkan dengan Indonesia, tetapi kesiapan mereka jauh lebih baik dari kita. Keseriusan pemerintah dalam menangani bencana di Indonesia merupakan salah satu kunci utama kemampuan Indonesia mengelola bencana.

Saat ini, diperlukan banyak sekali riset terkait bencana alam di Indonesia. Bukan hanya mengenai early warning system dan infrastruktur, tetapi riset tentang pengendalian efek dari bencana alam itu sendiri, agar dapat ditangani secara efektif. Dalam hal ini, negara sebaiknya bekerja sama dengan beberapa instansi terkait seperti lembaga riset dan kampus-kampus (BHMN), untuk mencari solusi lebih jauh mengenai penanganan bencana.

Dengan semakin gencarnya proyek-proyek penelitian dan tugas akhir atau skripsi, kerja sama antara pemerintah dengan lembaga riset dan kampus, diharapkan dapat memperoleh titik temu, solusi-solusi apa sajakah yang diperlukan dalam proses antisipasi bencana. Hal ini tentu saja perlu keseriusan dari pemerintah sendiri, untuk meningkatkan anggaran riset kita yang saat ini masih sangat minim dan terkesan dianaktirikan.

Untuk upaya penanganan sendiri, perlu dilakukan secara lebih terorganisasi. Saat bencana terjadi, tanggap darurat yang dilakukan oleh pemerintah dari daerah sampai pusat harus terkelola secara sistematis. Penetapan status bencana harus cepat dan update. Peran informasi elektronik pun perlu, bukan untuk semakin memperkeruh suasana, tetapi untuk mendistribusikan informasi yang valid pada masyarakat Indonesia mengenai daerah bencana. Dengan terdistribusinya informasi dengan baik dipadukan dengan ajakan untuk membantu masyarakat yang butuh pertolongan, akan dapat mempersempit masalah yang ada. Seperti gerakan sumbangan dan relawan yang diinformasikan secara baik ke semua kampus dan elemen masyarakat.

Terakhir, perlu digencarkan lagi penyuluhan mengenai situasi darurat pada masyarakat jika bencana alam terjadi. Bukan untuk menakut-nakuti tentunya, tetapi untuk memperbanyak masukan kepada masyarakat, khususnya masyarakat yang jauh dari perkotaan, sebagai langkah cepat saat bencana terjadi. Di sini, peran mahasiswa dan lembaga masyarakat tentu sangat diperlukan.

Keseluruhan upaya-upaya tadi harus diintegrasikan pada suatu kesatuan 'control system', supaya dapat berjalan dengan baik.

Lanjar Sidik Permadi

Program Studi Teknik Fisika

Fakultas Teknologi Industri

Institut Teknologi Bandung

(rfa)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini