nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bagaimana Mengukur Peringkat Akademik?

Hanna Meinita, Jurnalis · Senin 15 November 2010 19:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2010 11 15 373 393453 sUhTvylK85.jpg Image: corbis.com

LONDON Times Higher Education (THE) pada September lalu menempatkan Universitas Harvard dari Amerika Serikat (AS) sebagai universitas terbaik. Namun, yang menarik perhatian adalah kehadiran Universitas Alexandria dari Mesir di peringkat 147. Posisi Alexandria di atas Delft University of Technology dari Belanda (151) dan Georgetown University dari Amerika Serikat (164). Alexandria merupakan satu-satunya universitas dari Jazirah Arab di dalam daftar 200 universitas terbaik.

Editor majalah Times Higher Education, Ann Mroz menegaskan, institusi yang bisa masuk daftar adalah universitas terbaik. Dan jika Alexandria masuk daftar THE, tentunya ada indikator penilaian yang harus dipenuhi.

Wakil editor THE, Phil Baty mengaku, menonjolnya universitas ini dikarenakan hasil atau output yang tinggi dari seorang mahasiswa dalam satu jurnal. Mahasiswa itu diketahui sebagai Mohamed El Naschie, seorang akademisi Mesir yang menulis di berbagai blog, yang menerbitkan lebih dari 320 artikel dalam jurnal ilmiah. Dia juga seorang editor. Pada November 2009, Dr El Naschie menggugat jurnal Nature dari Inggris atas artikel yang menuduhnya “menyalahgunakan hak-hak istimewa editorial". Kasus ini masih diproses di pengadilan.

Meski merupakan bagian dari THE, Alexandria disebut bukanlah universitas terbaik di Kota Alexandria. Ini dinyatakan dosen Universiti Teknologi MARA di Malaysia, Richard Holmes dalam blog-nya University Rangking Watch. Holmes mengacu pada Webometrics Rangking of World Universities, yang dipublikasikan Kementerian Pendidikan Spanyol. Menurutnya, hasil keseluruhan dari penilaian Alexandria dipengaruhi oleh satu indikator, yaitu kutipan, yang menyumbang 32,5 persen dari total penilaian.

Jika tulisan (kutipan) dari seorang mahasiswa mampu membuat sebuah universitas unggul secara peringkat akademik tentunya memalukan. “Masalahnya adalah kita tidak tahu apa yang kita ukur,” ujar Dekan Graduate Reseacrh School di Dublin Institute of Technology dan penulis Rangkings dan The Reshapings of Higher Education: The Battle for World Class Excellence.

“Kita memerlukan data perbandingan lintas nasional yang berarti. Kita juga perlu tahu apakah cara mengumpulkan data yang membuatnya lebih berguna atau cara itu hanya untuk memudahkan penghitungan dalam sistem," ujarnya.

Dia juga mempertanyakan apakah penekanan pada bibliometrics, seperti menggunakan angka untuk publikasi akademik atau seberapa sering anggota fakultas dikutip dalam jurnal ilmiah merupakan hal utama untuk mengukur kualitas dari suatu universitas, adalah hal yang masuk akal.

"Saya mengerti bahwa bibliometrics menarik karena tampilannya objektif. Tapi seperti yang biasa Einstein katakan, 'Tidak semua yang dapat dihitung diperhitungkan, dan tidak semua yang diperhitungkan dapat dihitung.'" (rfa)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini