nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

35 Warga Sumut Meninggal Digigit Anjing Rabies

Adela Eka Putra Marza, Jurnalis · Kamis 30 Desember 2010 13:37 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2010 12 30 340 408711 MxACN0kFOP.jpg wordpress (ilustrasi)

MEDAN - Kasus penyakit rabies di Sumatera Utara ternyata masih mengkhawatirkan dan mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

 

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumut, kasus gigitan anjing mencapai 3.070 penderita sepanjang tahun 2010. Bahkan, 35 korban di antaranya meninggal karena positif menderita virus rabies.

 

"Kasus gigitan anjing ini berpotensi hampir merata di seluruh kabupaten/kota di Sumut. Untuk kasus terbesar angka kematian positif rabies ini terjadi di Nias dengan jumlah 20 korban," jelas Kepala Seksi Pencegahan Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P3BD) Dinkes Sumut, Sukarni, , Kamis (30/12/2010).

 

Menurutnya, beberapa waktu lalu daerah Nias sendiri telah ditetapkan sebagai KLB (kejadian luar biasa), karena banyak penderita rabies yang meninggal, termasuk Kepala Dinas Kesehatan Nias Utara. Bahkan, rata-rata penderita positif rabies tersebut tidak dapat bertahan hidup. Padahal, sebelumnya Nias merupakan bebas rabies.

 

Ditambahkan Sukarni, saat ini Dinas Peternakan Sumut sedang menangani eliminasi terhadap hewan, khususnya anjing. Hal ini dilakukan agar kasus gigitan anjing dapat berkurang, termasuk juga angka kematiannya.

 

Sedangkan tugas Dinkes Sumut sendiri adalah untuk pengobatan dengan menyediakan Vaksin Anti Rabies (VAR). Saat ini, ketersediaan obat tersebut sebanyak 700 kuur yang dianggarkan melalui APBD Sumut. Jumlah tersebut mencukupi untuk kasus rabies di Sumut.

 

Namun, pihak Dinkes Sumut tetap berharap agar setiap pemerintah daerah mengalokasikan dana untuk penyediaan VAR. Karena, stok yang tersedia di Dinkes Sumut hanya sekitar 20 persen saja, sedangkan 60 persen diharapkan dari alokasi pemerintah daerah masing-masing. Sisanya akan diberikan oleh pemerintah pusat.

 

Selain itu, Dinkes Sumut juga mengimbau kepada Dinkes kabupaten/kota untuk tetap melakukan surveilance dan koordinasi lintas sektor seperti Dinas Peternakan dan pemerintah daerah setempat dalam meminimalisir kasus gigitan anjing dan rabies ini.

 

Sementara itu, untuk 2011 mendatang, Dinkes Sumut mengestimasikan kasus gigitan anjing mencapai 4.500 kasus. Untuk itu, diharapkan juga setiap pemerintah daerah dapat mendirikan rabies center. Pusat ini nantinya akan memantau kasus di masing-masing daerah.

 

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara terbesar kelima di Asia dalam jumlah korban rabies. Kasus terbesar terjadi di India, China, Filipina dan Vietnam.

(teb)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini