Serunya Tinggal Dua Bulan di Kapal Fuji Maru

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Rabu 05 Januari 2011 18:09 WIB
https: img.okezone.com content 2011 01 05 373 410838 JwH7l6r6j3.jpg Eri (tengah) berfoto bersama foster parent Malaysia di depan kapal Fuji Maru (Foto: dok. UB)

JAKARTA - Akhir tahun lalu, Eri Hadiansyah, mendapat pengalaman unik dan menyenangkan. Mahasiswa Jurusan Teknologi Industri Pertanian (TIP) Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) ini menjadi salah satu wakil Indonesia dalam program The Ship for South East Asian Youth Programme (SSEAYP).

Selama dua bulan, Eri dan 27 wakil Indonesia lainnya belajar budaya dan hidup bersama perwakilan dari Jepang dan 10 negara anggota Association South East Asian Nations (ASEAN) di kapal Fuji Maru milik pemerintah Jepang. Titik awal perjalanan kapal dimulai dari Negeri Sakura dan dilanjutkan ke berbagai negara ASEAN. Program rutin yang dihelat sejak 1974 ini melalui rute perairan Laut China Selatan, Selat Malaka, dan kembali lagi ke Jepang.

Setiap negara mengirimkan 28 wakil yang telah melalui proses seleksi ketat. Di Indonesia, seleksi dilakukan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Ke-28 pemuda Indonesia tersebut merupakan wakil propinsi. Sebelum berangkat, mereka menjalani pelatihan yang digelar Kemenpora di kawasan Cibubur. Wakil Indonesia belajar tentang kesenian, kepribadian, kerja sama tim, dan wawasan internasional.

Eri dan ratusan peserta program ini menjalani kehidupan di Kapal Fuji Maru sejak 25 Oktober hingga 16 Desember 2010 lalu. Mereka terlibat dalam berbagai kegiatan seperti diskusi, club activities, solidarity group, dan national day. Berbagai kegiatan tersebut dirancang untuk pengenalan budaya dan menumbuhkan pemahaman bersama antarpeserta.

Pada club activities, peserta tiap negara diminta mengajarkan sebuah kebisaan seperti kesenian. Peserta asal Thailand misalnya, mereka menampilkan keterampilan Thai Massage. Malaysia menampilkan pencak silat, dakon, dan permainan congklak. Delegasi Jepang menyuguhkan atraksi kesenian dengan alat musik Taikodiri serta beladiri kendo dan karate. Eri dan delegasi Indonesia lainnya menampilkan tari Indang dari Sumatra Barat.

"Dari penampilan masing-masing delegasi terlihat bahwa budaya ASEAN terutama yang berumpun Melayu seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam itu hampir mirip", kata Eri seperti dikutip dari situs UB, Rabu (5/1/2011).

Karena itulah setiap kali akan menampilkan atraksi budaya, kontingen Indonesia dan Malaysia selalu berdiskusi, mengingat polemik kebudayaan antarkedua negara tersebut.

Eri bercerita, dalam solidarity group seluruh peserta dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang lebih intensif. Tujuannya, agar mereka bisa lebih saling mengenal karakter tiap kontingan. "Kemampuan berbahasa Ingris sangat mempengaruhi interaksi antar peserta. Bagi peserta yang kemampuan bahasanya masih lemah, akhirnya kami tidak bisa mengenal lebih jauh," imbuh Eri.  

Dalam perjalanan ini para peserta mengunjungi enam negara yakni Jepang, Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Di sana mereka melakukan kunjungan ke berbagai institusi, tinggal bersama keluarga dan berinteraksi dengan pemuda asli di negara tersebut. Kesempatan tersebut mereka manfaatkan untuk bertukar pengetahuan soal pendidikan tinggi, adat istiadat, makanan, dan tradisi masing-masing negara.  

Eri mengaku menikmati perjalanannya mengarungi lautan. Dia menilai, perairan di kawasan Laut China Selatan dan Selat Malaka bersih; hanya ketika memasuki pelabuhan air terlihat agak kumuh. Menurutnya, Singapura memiliki pelabuhan yang bersih dan berstandar internasional. "Mereka juga memisahkan zona penumpang dan muatan barang," imbuhnya. 

Selama perjalanan, Eri menuturkan, kapal Fuji Maru sempat dihantam ombak yang sangat tinggi. Akibatnya, semua peserta mengalami mabuk laut sehingga ada satu kegiatan yang harus dibatalkan. Dia mengenang, ketika memasuki Selat Malaka, para peserta diminta waspada terhadap serangan bajak laut. Konon, bajak laut tersebut tinggal berkoloni di sebuah pulau si selat yang terkenal sebagai jalur perdagangan internasional tersebut.

Seluruh delegasi SSEAYP masih memiliki kegiatan lanjutan setelah mereka kembali ke negara masing-masing. Dalam post program activities tersebut, mereka memiliki dua agenda yang terbagi dalam agenda jangka pendek dan agenda jangka panjang.

Sebagai agenda jangka pendek, delegasi Indonesia akan memberikan pendidikan dan pembinaan tentang masalah yang mereka paparkan dalam discussion group kepada anak-anak yang tinggal di rumah kardus di Jakarta. Tidak hanya itu, nantinya, masing-masing anak-anak binaan para delegasi akan diberi kesempatan untuk berkorespondensi dengan anak binaan delegasi dari 10 negara lainnya. "Saya akan memberikan pendidikan kepada anak-anak kardus mengenai pangan, budaya dan nutrisi," ujar Eri. (rfa)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini