Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kraton: Juru Kunci Harus Paham Vulkanologi

Prabowo , Jurnalis-Selasa, 18 Januari 2011 |23:14 WIB
Kraton: Juru Kunci Harus Paham Vulkanologi
Gunung Merapi
A
A
A

YOGYAKARTA - Pihak kraton telah mempersiapkan pengganti Mbah Marijan. Namun semuanya tergantung keputusan Ngarso Dalem, Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sesuai aturan kraton, seorang juru kunci Gunung Merapi tentunya akan dipilih dari para abdi dalem yang telah lama bertugas di kawasan Merapi ini.

Selain itu, mereka juga harus mempunyai kelebihan khusus seperti mengerti kondisi alam di sekitar Merapi.

Pengageng Tepas Dwarapura Kraton Ngayogyokarta Hadiningrat, KRT Haji Jatiningrat atau akrab dipanggil Romo Tirun mengatakan, ke depan juru kunci Merapi tak bisa sekedar orang yang menguasai benar kondisi alam di sekitarnya, tetapi juga harus mengerti tentang ilmu teknologi kegunungapian (Vulkanologi).

"Jangan ada lagi seorang juru kunci yang mengatakan ia belum mendapatkan wangsit bahwa Merapi akan meletus. Padahal secara teknologi menunjukkan tanda-tanda gunung ini akan meletus. Sikap itu tentunya bisa dikategorikan kesombongan," tuturnya.

Menurut Romo Tirun, seorang juru kunci Merapi harus bisa menjelaskan kepada masyarakat tentang kondisi gunung tersebut, baik dari hasil olah rasanya terhadap perubahan alam, maupun dari hasil pengamatan ilmu teknologi.

"Agama juru kunci harus Islam. Karena Kraton Yogyakarta merupakan kerajaan Islam. Jadi juru kunci ini juga disyaratkan juga mengerti benar tentang ajaran Islam," katanya.

Romo Tirun sendiri membantah bila upacara labuhan ini masuk kategori sirik. Labuhan merupakan tradisi Kraton Yogyakarto yang sudah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu.

Persepsi labuhan sebagai kegiatan yang mengandung syirik merupakan penilaian yang dangkal. Semua yang dilakukan bermuara pada kuasa Allah SWT.

"Kita tidak bisa memungkiri, baik saat labuhan maupun fenomena di lereng Merapi itu terkadang diluar nalar kita. Ada hal-hal aneh yang mustahil jika dilogikakan. Namun, itu atas izin Allah," katanya.

Upacara labuhan, katanya, bagian dari laku budaya yang bernilai sakral. Kesakralannya inilah yang harus dijaga. Jangan dikotori dengan titipan-titipan acara yang bersifat keduniaan. Upacara Labuhan akan berlangsung pada bulan Rajab. (Ugo)

(Lusi Catur Mahgriefie)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement