Jangan Sekadar Sarjana!

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Kamis 03 Maret 2011 12:54 WIB
https: img.okezone.com content 2011 03 03 373 431003 L4dP1Vsi7W.jpg Image : Corbis.com

JAKARTA - Karut marut wajah pendidikan Tanah Air ditengarai karena Indonesia lupa akan amanat konstitusi.

 

Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UII) Mahfud MD mengingatkan, untuk memantapkan pendidikan Indonesia, sudah seyogianya kembali ke konstitusi, yakni pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa. 

"Perlu diingat, cerdas berbeda dengan pandai. Cerdas melibatkan otak dan watak, serta dilandasi dengan iman dan takwa. Sementara, pandai hanya sebatas kognisi, pada otak," kata Mahfud pada upacara Wisuda Universitas Nasional (Unas) di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (3/3/2011).

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini menambahkan, landasan iman dan takwa diperlukan agar seseorang menjadi intelektual, bukan sekadar sarjana. Intelektual, kata Mahfud, adalah seseorang sebagai produk pendidikan memiliki kecerdasan otak dan keluhuran watak. Selain ilmu, seorang intelektual juga memiliki tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat, dia selalu ingin mengabdi kepada masyarakat.

"Itu sebabnya sampai hari ini saya masih aktif di perguruan tinggi. Karena, saya ikut resah dan gundah dengan berbagai masalah pendidikan di Tanah Air," ujar Mahfud mengimbuhkan.

Dia prihatin, banyak orang 'mencuri' ijazah, yakni mendapatkannya dengan jalan yang tidak benar hanya untuk memuluskan jalan mereka meraih kekuasaan. Ada juga orang yang memiliki ijazah secara resmi, tapi wataknya tidak benar.

"Akibatnya, ketika mendapatkan kekuasaan, dia pun tidak segan bertindak semena-mena. Ini harus kita perbaiki dengan mengembalikan khittah pendidikan ke amanat konstitusi," tuturnya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini