"Teror Bom Alihkan Isu WikiLeaks"

Rizka Diputra, Okezone · Sabtu 19 Maret 2011 13:09 WIB
https: img.okezone.com content 2011 03 19 339 436608 Y84UI9qoqu.jpg ist

JAKARTA - Maraknya aksi teror bom tidak hanya mencerminkan ketidakberdayaan intelijen negara, namun juga membuktikan ketidakmampuan presiden dan pemerintahannya dalam mengendalikan dan menjaga ketertiban umum.

 

Demikian diungkapkan anggota Komisi Hukum DPR Bambang Soesatyo. Menurutnya, jika Polri gagal mengungkap para pelaku di balik aksi teror tersebut, maka publik akan percaya bahwa tangan-tangan kotor pemerintah berada di balik serangkaian teror bom buku tersebut.

 

"Disadari atau tidak, target pengiriman tiga bom buku tiga hari lalu itu memperuncing disharmoni kehidupan umat beragama, khususnya sesama umat Islam. Saya melihat ada tangan-tangan kotor yang mulai berupaya mengeskalasi sekaligus mempertegas dikotomi Islam Konservatif versus Islam Liberal di Indonesia," ujar Bambang kepada okezone di Jakarta, Sabtu (19/3/2011).

 

Dirinya tidak percaya terhadap asumsi bahwa pelaku teror bom buku adalah kelompok-kelompok yang menentang kelompok Islam Liberal.

 

Keyakinan tersebut lanjut dia mengacu pada dua indikator, yakni umat beragama di Indonesia sudah sangat terbuka, baik dalam bersikap maupun menyatakan pendapatnya. Keterbukaan itu bisa dilihat dalam polemik seputar eksitensi Ahmadiyah di Indonesia.

 

"Kalau pun ada sekelompok umat yang bersikap ekstra keras, mereka mengaktualisasikan kemarahan mereka secara terbuka, tidak sembunyi-sembunyi ala pelaku pengirim bom buku. Kalau pun terjadi kekerasan berdarah seperti di Cikeusik, toh aksi kekerasan Cikeusik ternyata direkayasa," kata Bambang.

 

Selanjutnya, menurut Bambang, target tiga bom buku itu tidak mematikan. Lantaran bom itu dirakit oleh ahli dan direkayasa agar bisa meminimalkan korban.

 

"Kalau pelakunya benar-benar penentang Islam Liberal, saya yakin teror itu pasti mematikan. Pelakunya hanya ingin mencari sensasi dan menciptakan kehebohan baru agar publik segera berpaling dari tsunami Wikileaks yang sedang mengguncang jantung kekuasaan," ungkapnya.

 

Jika fungsi intelijen negara tidak segera direvitalisasi, sambung dia, publik harus menyiapkan mental karena teror bom dengan modus seperti itu masih akan terus berlanjut.

 

"Sebaliknya, stabilitas nasional akan terjaga jika pemerintah efektif menjalankan perannya sebagai penjaga ketertiban umum dan tidak ikut-ikutan memperkeruh suasana," pungkas politisi Partai Golkar ini.

(teb)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini