nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Diduga Aliran Sesat, Massa Rusak Balai Pengajian

Salman Mardira, Jurnalis · Senin 21 Maret 2011 13:33 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2011 03 21 340 437122 9t9cy81FkV.jpg Ilustrasi penganiayaan (Foto: Agung/okezone.com)

BANDA ACEH- Ratusan warga mengepung dan merusak sebuah balai pengajian yang diduga menyebarkan ajaran sesat di Desa Jambo Dalam, Kecamatan Plimbang, Kabupaten Bireun, Aceh.

Tidak hanya merusak, massa juga membakar dua sepeda motor dan satu unit mobil pikup milik Teungku Ayub Syahkubat, pemimpin balai pengajian itu dalam peristiwa Senin (21/3/2011) dinihari.

Menurut Kasem, seorang tokoh masyarakat setempat, aksi itu dipicu karena warga emosi terhadap Ayub yang dinilai tak mematuhi kesepakatan untuk tidak menggelar aktivitas pengajian dan menerima tamu dari luar desa.

“Warga sudah kesal mengingatkan sehingga terjadi aksi yang burujung anarkis ini. Tetapi tidak sampai menimbulkan korban jiwa, karena kami orangtua kampung (petinggi) langsung mencegah saat massa mau menyerang mereka,” katanya saat dihubungi okezone.

Kasem menceritakan, pengerusakan ini berawal saat Ayub menerima empat tamu dari luar kampung tersebut yang diyakini sebagai pengikut ajaran yang belum diketahui namanya.

Ayub tak melaporkan kepada tetua kampung yang seharusnya tiap menerima tamu sudah disepakati harus melapor dulu ke tetua kampung. Warga bersama Sekretaris Desa setempat kemudian mendatangi rumah Ayub dan menegur.

“Saat ditegur Ayub malah masuk ke dalam selanjutnya mengambil parang dan mengancam warga. Aksi itu membuat warga emosi,” ujar Kasem.

Warga lantas berbondong-bondong mendatangi rumah Ayub dan meminta dia dan empat tamunya keluar. Massa kemudian merusak balai pengajian yang berada di samping rumahnya itu.

Saat warga hendak masuk ke dalam rumah untuk menghampiri Ayub dan empat tamunya itu, tetua kampong langsung mencegah. Tak lama kemudian Polisi dari jajaran Polres Bireun dan POM tiba di lokasi dan mengamankan Ayub bersama tiga tamunya. Seorang tamu, kata Kasem, melarikan diri saat pengepungan.

Ayub dan tiga anak buahnya dari Lhokseumawe, Lhoknibong (Aceh Utara) dan Biruen itu langsung diboyong Polisi. Warga yang kesal tak mendapatkan mereka melampiaskan emosinya dengan membakar mobil milik Ayub.

Kasem mengatakan, Ayub sudah memulai aktivitas pengajiannya di Desa itu sejak tiga tahun lalu. Peserta pengajian itu didominasi orang luar kampung tersebut.

“Pengajian itu tertutup bagi warga. Tiap pengajian balai selalu ditutupi kain putih sehingga tidak kelihatan, tidak seperti pengajian biasa,” ujar dia.

Ajaran disebarkan Ayub, menurut warga, memperbolehkan pengikutnya meninggalkan salat lima waktu karena dosa itu akan ditanggungnya sebagai orang suci.

Warga makin kesal karena dia enggan salat berjamaah di masjid atau meunasah (Surau) bersama warga lain, karena baginya tempat itu harus di sucikan dulu dan orang yang masuk ke mesjid baru dianggap suci setelah ia melihat sendiri cara mereka menyucikan diri.

Menurut Kasem Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) setempat, sudah berulangkali memanggil Ayub namun tak pernah diindahkan. Sehingga dibuat kesepakatan Ayub tak diizinkan menggelar pengajian lagi di desa itu, menerima tamu tanpa melapor ke tetua kampung.

Dia juga diharuskan ikut dalam kegiatan-kegiatan warga, seperti takziah ke orang meninggal dan salat berjamaah bersama warga. Kapolres Bireun AKBP HR Dadik Junaedi Suprihartono yang dikonfirmasi okezone terkait kejadian itu belum berhasil dihubungi.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini