Ponzi Ekonomi ala Hyman P. Minsky

Selasa 22 Maret 2011 12:40 WIB
https: img.okezone.com content 2011 03 22 285 437541 P0teg9LUlD.jpg

Judul : Ponzi Ekonomi, Prospek Indonesia Di tengah Instabilitas Global.

Penulis : A. Prasetyantoko

Penerbit : Penerbit Buku Kompas

Tahun : 1, Oktober 2010

Tebal : xxx + 202 halaman

Harga : Rp 42.000,-

Ponzi ekonomi, yang dijadikan judul buku oleh penulis, merupakan istilah yang pernah dipopulerkan oleh Hyman P. Minsky. Dia seorang pemikir ekonomi non-konvensional yang hidup pada 1919-1996. Pemikiran Minsky tentang ponzi ini mencoba digali kembali setelah terkubur berpuluh-puluh tahun. Karena bagi pelaku pasar di Wall Street, pemikirannya dianggap mampu menjelaskan dengan baik fenomena ketidakstabilan finansial yang marak terjadi akhir-akhir ini.

    

Jika kita mengatakan bahwa krisis selalu ada dan akan terus ada. Sejatinya bersumber pada hal yang sama. Pemikiran Minsky tentang akumulasi utang merupakan argumen yang paling tepat. Karena mekanisme utama yang menyebabkan krisis adalah perilaku berutang. Teorinya pun sederhana, semakin besar pelaku mengakumulasi utang, semakin besar risiko mengalami gagal bayar. Dan mekanisme ini terjadi secara alamiah.

Dalam pemaparannya, Minsky mengidentifikasi ada tiga tipe pengutang, yaitu pengutang yang berhati-hati (hedge), pengutang yang spekulatif (speculative), dan pengutang yang tak lagi bisa membayar (ponzi).

Pengutang hedge, prinsipnya adalah pengutang yang mampu melakukan pembayaran utang dengan baik. Spekulatif adalah pengutang yang mampu membayar cicilan utang dengan cara menjual asetnya. Sementara ponzi, adalah pengutang yang tak lagi mampu membayar cicilan dan bunga dari aliran kas yang dihasilkan dari investasinya. Begitu terjadi depresiasi terhadap asetnya, mereka tak lagi mampu membayar. (hal 70).

Oleh karena itu, sebagian besar ekonom sangat mewaspadai jika terjadinya badai “krisis ekonomi” akibat dari banyaknya hutang yang tak terbayar. Sebab, badai tersebut selalu datang silih berganti dan bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain dalam tempo waktu yang relatif singkat.

Selanjutnya, buku ini memberikan beberapa catatan mengenai sebuah metodologi yang bisa digunakan sebagai pisau analisis dalam menyorot krisis ekonomi. Yaitu konsep Balance Effect (BE). Metode ini memberikan titik terang, bagaimana berbagai institusi dan agen dalam ekonomi bisa saling terkait antar satu sama lain.

Melalui pendekatan ini, penulis mencoba melihat keterkaitan antara hubungan neraca rumah tangga dengan perekonomian makin intens terjadi. Sebab, sektor rumah tangga (household level) jika terjadi goncangan, secara tidak langsung akan menyebar pada sektor-sektor lain—seperti neraca perusahaan/perbankan (corporate level) dan neraca pemerintah (country level) —Yang nantinya akan menimbulkan kerusakan pada perekonomian.

Di sisi lain, salah satu risiko yang berpotensi menimbulkan masalah sistemik yaitu bermuara pada nilai tukar. Jika nilai tukar melonjak drastis, maka semakin banyak nilai tukar kolaps. Pada tataran ini, dunia perbankan akan mengalami situasi buruk, yang nantinya bisa meledak menjadi “bencana finansial” besar.

Pada bagian pertama, penulis menyajikan gambaran perekonomian global, termasuk berbagai pembahasan ketidakseimbangan global (global imbalences), keterkaitan antara sistem keuangan dan perbankan, sampai pada tema kembalinya peran negara dan juga aspek perdagangan.

Dibagian kedua, buku ini mencoba membahas mengenai potensi ekonomi Indonesia kedepan termasuk untuk menjadi bagian BRIC (Brasil, Rusia, India, China) dan tantangan yang akan dihadapi Indonesia. Pasalnya, menurut laporan Morgan Stanley, Indonesia memilki dua kekuatan penting, yaitu sumber daya manusia (demographic devidend) dan sumber daya alam (natural resources). Lanjut Morgan, Indonesia akan memasuki rezim pertumbuhan ekonomi yang tinggi apabila mampu mengapitalisasi dengan baik sumber daya tersebut, baik sumber daya penduduk yang besar dan sumber daya alam yang kaya. Pembahasan topik yang beragam ini menjadikan pembaca ikut mengalir dalam alunan tulisan penulis.

A. Prasetyantoko, penulis buku ini, seorang yang expert di bidang ekonomi. Tercatat, mulai dari tahun 2001 hingga 2010, ia menulis lebih dari 200 artikel opini di berbagai media massa. Sebagian besar menyorot tentang perekonomian. Lewat buku ini, Penulis memberikan rambu-rambu penting bagi pelaku ekonom agar berhati-hati dalam mengambil suatu kebijakan yang berdampak terhadap masalah sistemik.

Keberadaan negara dengan ekonomi raksasa seperti Amerika sekalipun tidak menjadi jaminan untuk kebal terhadap goncangan ekonomi (baca: krisis finansial).

Menurut saya, buku Ponzi Ekonomi ini layak ditelaah oleh kalangan awam. Karena bahasa yang digunakan penulis begitu mudah dan teori yang disampaikan pun sangat cerdas. Bagi segenap praktisi keuangan, analisis, dan pengambil keputusan kebijakan ekonomi, buku ini menjadi bacaan wajib. Sehingga mereka dapat mendalami falsafah dasar krisis keuangan dan ekonomi global yang selalu menjadi titik rawan bagi kestabilan sistem perekonomian.

Peresensi adalah Muhammad Autad An Nasher

Penikmat buku ekonomi, asal Jepara, Jawa Tengah.

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini