Share

Ekspresi Politik dalam "Genggaman" Dunia Cyber

Selasa 12 April 2011 11:27 WIB
https: img.okezone.com content 2011 04 12 285 444974 XszgjfAtv8.jpg

Judul : Oposisi Maya

Penulis : Linda Christanty, dkk

Penyunting : Puthut EA

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Penerbit : Insist Press, Yogyakarta

Tahun : I, 2010

Tebal : 143 halaman

Internet adalah cerita abad ini, karena internet menjadi media perubahan. Bukan saja pada kehidupan sehari-hari, tetapi semua hal dari komersial sampai komunikasi, politik dan kebudayaan, demikian kata Direktur eksekutif Webby Award David-Michel Davies, (hal 31).

      

Bila melihat ungkapan dari direktur tersebut, fenomena dunia maya banyak dimanfaatkan untuk beberapa kepentingan, terutama politik. Karena internet bergerak dengan cepat, praktis, dan mudah. Berselancar dalam internet, seakan-akan dunia dalam genggaman.

      

Semenjak tahun 1998 saat kediktatoran jatuh, jumlah pelanggan internet memuncak tajam. Menurut data penyedia jasa internet, angka pemakai internet pada saat itu sekira 512 ribu orang. Media internet pun dijadikan medium alternatif untuk menjatuhkan kediktatoran Soeharto.

     

Selanjutnya, buku ini mencoba mengkritisi fenomena media sosial berbasis internet. Seperti facebook, twitter, dan lain-lain. Facebok, situs yang mengudara sejak 2004 oleh Mark Zuckerberg itu, diakui atau tidak, telah mampu menghasilkan beberapa kepentingan politik yang bisa dilihat dengan prespektif gerakan sosial baru.

Ambil contoh, persoalan yang pernah menimpa Prita Mulyasari. Facebook dibuat sebagai ajang “membangunkan” masyarakat dengan cara ikut berpartisipasi dalam gerakan koin peduli Prita. Gerakan koin ini adalah langkah cerdas, karena uang recehan yang dianggap tidak berharga, namun sanggup membayar kebebasan Prita. Ini adalah sindiran tajam terhadap pemerintah, karena tidak mampu menciptakan rasa keadilan bagi rakyat Indonesia. Pada kasus Prita ini, mencerminkan betapa besar peran dunia maya sebagai medium alternatif bagi ekspresi politik.

      

Dalam buku ini, Mulyani Hasan ikut menulis dengan judul: “Jika hatimu tergetar melihat penindasan, Join the group”. Artinya,  klik saja —join the group—kalimat ini tentunya tidak asing lagi di mata facebookers. Di sini, media telah menempatkan peristiwa-peristiwa serupa sebagai gerakan politis. Karena dunia maya memang mempertemukan cara radikalisme dengan langkah yang sangat sederhana: tinggal klik.

       

Pada tataran ini, situs jejaring sosial memberikan kontribusi besar untuk membentuk opini di masyarakat secara massif. Potret dari gerakan satu juta untuk mendukung Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah pada kasus perseteruan melawan lembaga kepolisian (polri), menjadi fakta bahwa jejaring sosial mampu menampung aspirasi rakyat.

Dalam dunia maya, gagasan yang ditumpahkan oleh masyarakat tak mampu terbendung. Karena sifatnya semu. Oleh sebab itu, para penulis dalam buku ini mencoba mencari jawaban dari berbagai fenomena yang belum tersentuh oleh media mainstream. ada sebanyak 9 penulis dalam buku kecil ini. Diantaranya adalah Nezar Patria, Mulyani Hasan, Linda Christanty, Nilam Indahsari, Lies Marcoes-Natsir, Saleh Abdullah, Nurhadi Sirimorok, Dodi yuniar, dan Puthut EA. Mereka adalah pemerhati gerakan sosial yang berasal dari INSISTPress.

       

Singkat kata, buku ini benar-benar menarik untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama masyarakat awam, agar tidak mudah disetir oleh pemberitaan media yang lebih mementingkan politik praktis yang menjebak. Demikian.

Muhammad Autad An Nasher

Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang, dan juga pegiat di komunitas JFC Studies

(mbs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini