Share

4 Mahasiswa Bunuh Diri karena Biaya Kuliah

Hanna Meinita, Okezone · Rabu 13 April 2011 12:11 WIB
https: img.okezone.com content 2011 04 12 417 445285 gP2aahWTiX.jpg Image: corbis.com

SEOUL - Universitas elit di Korea Selatan, Korea Advanced Institute of Science and Techonology (Kaist) ketiban sial. Sejak Januari, empat mahasiswanya bunuh diri sebagai akibat biaya kuliah yang tidak masuk akal.

Pada Januari, seorang mahasiswa 19 tahun mengalami overdosis pil tidur. Pada 20 Maret, seorang mahasiswa 19 tahun meninggal dengan catatan di sebelahnya di Suwon, Gyeonggi. Sembilan hari kemudian, mahasiswa berusia 25 tahun melompat dari apartemen di Seoul selatan. Dan bulan ini, mahasiswa berusia 19 tahun ditemukan tewas di apartemen di Incheon. Demikian seperti dikutip dari situs Joongangdaily, Rabu (13/4/2011).

Banyak pihak meyakini, kebijakan yang dibuat Presiden Universitas Kaist Nam Pyo Suh berperan besar atas terjadinya kasus-kasus bunuh diri tersebut. Sejak menjadi presiden di kampus ini pada 2006, Suh membuat mahasiswa tertekan.

Sejak berdiri pada 1981, kampus ini bebas biaya kuliah. Pemerintah menyuplai seperempat dana universitas. Tapi sejak Suh menjadi presiden, dia membuat kebijakan yang bertujuan meningkatkan daya saing dosen dan mahasiswa. Dia memungut biaya kuliah dan mewajibkan semua kegiatan kuliah menggunakan bahasa Inggris.

Kebijakan yang paling kontroversial adalah biaya kuliah penuh akan dikenakan pada mahasiswa yang tidak mendapat nilai minimum. Biaya kuliah penuh sebesar 6 juta won atau setara dengan Rp47 juta (Rp7.9 per won). Berdasarkan kebijakan tersebut, mahasiswa yang memiliki IPK 3,0 akan menerima biaya kuliah penuh. Sementara yang IPK-nya kurang dari 3,0 akan dibebankan biaya kuliah berdasarkan IPK-nya.

Sejak kebijakan ini diberlakukan, 1.006 dari 7.805 mahasiswa dibebankan biaya kuliah. Kebijakan Suh ini diyakini menyebabkan persaingan sengit di antara mahasiswa dan menimbulkan kejadian bunuh diri. (rfa)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini