nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Stigma Negatif Semakin Meminggirkan Anjal

Catur Nugroho Saputra, Jurnalis · Selasa 17 Mei 2011 09:11 WIB
https: img.okeinfo.net content 2011 05 17 343 457857 BFHX1i33Oa.jpg Tuntutan anak jalanan (foto:elmurobbie.wordpress.com)

PASTINYA kita sering melihat anak jalanan (anjal) berkeliaran di stasiun, terminal, halte, bus, perempatan lampu merah, taman, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat umum lainnya.

Anjal ini menghabiskan sebagian besar hidupnya di jalan dengan cara mengamen, memulung, menjadi tukang sapu di kereta, dan bahkan juga menjadi pengemis. Tentunya, mungkin sebagian masyarakat akan langsung mempunyai pemikiran yang negatif terhadap mereka saat melihat penampilan, pekerjaan yang dilakukan, atau bahkan gaya hidup mereka.

Stigma–stigma negatif yang bermunculan tentang anjal membuat mereka menjadi tidak diakui keberadaannya di masyarakat. Mereka menjadi tersudutkan terhadap stigma negatif yang beredar di masyarakat. Pada akhirnya, mereka jadi enggan untuk bergabung dengan masyarakat lain dalam kehidupan yang normal.

Ketua umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait menilai stigma–stigma negatif lahir di masyarakat membuat Indonesia, khususnya DKI Jakarta untuk bebas dari anjal sangat sulit. “Stigma di masyrakat inilah yang membuat program pemerintah menanggulangi anjal akan sulit terealisasikan. Oleh karena itu, stigma tersebut harus diubah,” ungkapnya saat berbincang dengan okezone di Kantornya, Jalan TB Simatupang, Jakarta, baru-baru ini.

Hal senada juga diucapkan Kabid Yan Rehsos Dinas Sosial DKI Jakarta Sri Winarni. “Stigma masyarakat tentang anjal sangat mengganggu program-program pemerintah. Seharusnya, hal ini berjalan berbarengan,” paparnya.

Dia melihat harus adanya kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk menanggulangi anjal. Dinas Sosial DKI Jakarta sebenarnya sudah melakukan upaya-upaya untuk menanggulangi anjal dengan membuat beberapa program, seperti membentuk panti-panti, pemberdayaan keluarga, memberikan modal usaha kepada rumah singgah, dan lainnya.

Semua program tersebut mengalami kendala dan hambatan. Selain dari stigma masyarakat, juga datang dari anjalnya sendiri berupa ketidaksiapan untuk keluar dari jalanan, dan banyaknya anjal yang tidak mau mengikuti program.

Winarni menjelaskan, anjal juga memiliki pemikiran sendiri agar tidak keluar dari jalanan. “Mainset anjal inilah yang harus diubah juga, dengan diadakannya berbagi intervensi kegiatan-kegiatan di rumah singgah,” ujarnya.

Dalam program–program yang dilakukan Dinas Sosial banyak pihak yang dilibatkan antara lain, Dinas Kesehatan bagi para anjal yang sakit, Dinas Catatan Sipil untuk pembuatan data diri, dan Kanwil Kementerian Agama untuk meningkatkan pengetahuan agama.

Banyaknya pihak yang dilibatkan di sini, menurut Ketua Komnas PA Arist, perlu adanya kerja sama, tidak hanya Pemda DKI. Namun juga lintas kementerian plus polisi yang sudah menandatangi perjanjian untuk menangani masalah ini. “Lintas kementrian plus polisi sudah mengadakan perjanjian sekitar dua bulan yang lalu, mereka harus digerakkan untuk melindungi anak jalanan secara keseluruhan,” imbuhnya.

Pria brewokan dan berkaca mata ini mengatakan, anjal berasal dari kemiskinan yang berkelanjutan mengganggu sehingga akhirnya hak-haknya terampas. Dia juga menjelaskan, tumbuh kembang anjal berada di jalanan khususnya balita akan terganggu kesehatannya, terjadinya penculikan, bahkan lebih parahnya lagi akan adanya eksploitasi anak yang belakangan marak terjadi.

Selain itu, mereka juga rentan akan menjadi pelaku kriminal dikarenakan kondisi sesama anjal yang sudah saling bersaing. Anjal ini nantinya akan belajar berbagai tindakan kriminal kepada seniornya.

Ketum Komnas PA juga menilai pemerintah dalam hal anjal ini harus menanganinya secara holistik, dengan mencari tahu kebutuhan apa yang diperlukan para anjal. “Pemerintah selain memenuhi sandang- pangan anjal juga harus menjawab problematika mendasarnya,” tambahnya.

Pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam penanganan anjal juga harus dirubah dari pendekatan kriminal (penangkapan anjal kemudian dikirim ke panti), menjadi pendekatan hati (pendekatan yang dilakukan melalui rumah singgah kepada anjal). Tidak hanya itu, pemerintah harus menangani secara komperhensif dengan memikirkan bagaimana program harus berjalan dengan baik?

Menurut, pria yang berulang tahunnya sama dengan ulang tahun RI ini, anjal memiliki suatu kesatuan yang kuat antara mereka, dapat bertahan hidup bersaing dengan kerasnya kehidupan jalanan, dan dapat menghidupi dirinya sendiri tanpa adanya orangtua.

“Jujur, saya sangat salut kepada mereka atas apa yang telah mereka lakukan, namun tidak seharusnya mereka hidup di jalan,” katanya.

(ram)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini