Share

Ratusan Keris Zaman Majapahit & Mataram Dipamerkan

Edi Prayitno, SUN TV · Rabu 15 Juni 2011 01:03 WIB
https: img.okezone.com content 2011 06 14 340 468422 AbDu0cz2yK.jpg Ilustrasi (Wordpress)

KENDAL - Ratusan pusaka zaman Kerajaan Majapahit dan Mataram selama tiga hari dipamerkan di GOR Bahurekso, Kendal, Jawa Tengah. Pusaka-pusaka tersebut berasal dari sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan luar Jawa.

Mayoritas pusaka-pusaka tersebut berbentuk keris. Ratusan keris dalam berbagai bentuk zaman itu terpajang rapi dalam wadah lengkap dengan sarungnya. Meski umurnya sudah ratusan tahun, keris-keris ini masih terlihat bagus karena dirawat secara khusus oleh empunya.

“Pameran ini sebagai wahana pengenalan sekaligus pembelajaran sejarah. Keris yang paling tua dipamerkan berasal dari zaman Kerajaan Majapahit, sekira tahun 1200-an,” ujar Sekretaris Kerta Brata, Jawa Tengah, Sukirno, Selasa (14/6/2011).

Keris adalah barang yang sangat lekat dengan kultur jawa. Dalam legenda Jawa dikatakan untuk menjadi seorang pria sejati seseorang harus memiliki lima hal. Yakni keris pusaka, seekor kuda, burung peliharaan, seorang wanita, dan sebuah rumah.

Keris dalam kultur Jawa dipandang dan diperlakukan sebagai suatu simbol serta status bagi pemiliknya, bukan sebagai alat pembunuh. Hampir disetiap keluarga aristokrat Jawa dapat dipastikan memiliki keris pusaka keluarga yang memiliki keampuhan-keampuhan khas.

Rumitnya masalah keris ini berakibat tidak mudahnya masalah kepemilikan keris bagi seseorang. Untuk memiliki sebuah keris yang mengandung makna kultural mengharuskan seseorang melakukan beberapa ritual guna memastikan apakah keris tersebut berjodoh dengan si pemilik dan bagaimana selanjutnya pemeliharaannya.

Pada penggunaan masa kini keris lebih merupakan benda aksesori dalam berbusana, simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya. Dipamerkannya keris-keris warisan budaya Indonesia ini guna mengantisipasi semakin maraknya budaya Indonesia yang diklaim oleh pihak luar negeri.

“Agenda ini merupakan salah satu kecintaan anak negeri terhadap budaya asli masyarakat Indonesia yang sudah diakui dunia,” ujarnya.

Pameran peninggalan kerajaan tempo dulu ini bukanlah pameran kekuatan magic yang ada dalam pamor keris. Namun sebagai wujud melestarikan kecintaan terhadap kebudayaan dalam negeri.

Sukirno menilai estetika dalam keris memiliki makna yang dalam. Sejak dulu keris yang beraneka jenis dibuat bukan hanya untuk senjata tajam. Ada nilai-nilai yang terkandung dalam setiap keris, seperti jumlah lengkung pada keris, motif di keris, hingga sarung yang digunakan.

Sejumlah pejabat antusias dengan pameran ini. Bupati Kendal Widya Kandi Susanti nampak hanyut melihat keelokan keris. Pameran keris ini juga sebagai pembelajaran warisan leluhur budaya Indonesia yang perlu dilestarikan dan dijaga, bukan diperjualbelikan hanya untuk keuntungan semata. Pasalnya banyak pusaka pendiri Kabupaten Kendal yang dijual ke kolektor di luar negeri.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini