nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Banyak Proyek, Staf Keuangan Nazar Sampai Lupa

Muhammad Saifullah , Jurnalis · Senin 18 Juli 2011 20:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2011 07 18 339 481327 K5pp8CwHRe.jpg Nazaruddin (Foto: Dok Okezone)

JAKARTA - Sorotan terhadap mantan Kabareskrim Komjen (Purn) Ito Sumardi yang diduga menerima aliran dana dari M Nazaruddin sebesar USD50 ribu, membuat nama Yulianis mendadak diburu kru media.

Ya, dia adalah staf keuangan di kantor Nazaruddin di Tower Permai, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan yang digerebek penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi pada 22 April 2011 lalu.

Yulianis juga disebut dalam surat dakwaan Muhammad El Idris yang dibacakan jaksa KPK. Disebutkan, Yulianis bersama staf Nazaruddin lainnya, Oktarina Furi, menerima uang Rp4,34 miliar dari Manajer Pemasaran PT Duta Graha Indah (DGI) Muhammad El Idris.

Uang itu merupakan bagian dari fee yang disepakati dari proyek Wisma Atlet SEA Games. Idris telah sepakat memberi fee sebesar 13 persen dari nilai kontrak Rp191,6 miliar yakni sebesar Rp 24,908 miliar. Pemberian itu diketahui juga oleh Dudung Purwadi (Direktur Utama PT DGI).

Selain sebagai orang kepercayaan Nazaruddin, Yulianis juga menjabat sebagai Direktur PT Executive Money Changer. Lantas apakah informasi dari dia seputar sepak terjang Nazaruddin dapat dipercaya? Berikut petikan wawancara eksklusif RCTI via telepon dengan Yulianis.

RCTI: Bagaimana ceritanya Anda bisa bekerja di perusahaan Nazaruddin?

Ya saya melamar dari koran, ada salah satu teman saya juga ternyata di sana, dan prosesnya sama seperti karyawan lain.

RCTI: Apa saja tugas Mbak Yuliani sebagai staf keuangan Nazaruddin?

Saya mencatat uang keluar dan uang masuk

RCTI: Jadi semua uang yang masuk ke perusahaan dan semua yang keluar itu dicatat oleh Mbak Yuliani ya?

Iya betul

RCTI: Tapi Anda juga disebut mempunyai peran penting. Apakah memang betul Anda juga disebut sebagai salah satu presiden direktur dari perusahaan penukaran uang milik Nazaruddin?

Pada suatu saat itu saya diberi tahu oleh Pak Nazar bahwa saya dimasukkan jadi presiden direktur eksekutif money changer, sebenarnya saya tidak mau, cuma ya saya takut lah waktu itu.

RCTI: Takutnya kenapa Mbak Yulianis?

Ya kan beliau sebagai atasan saya.

RCTI: Mbak Yulianis, apa benar money changer di mana Mbak Yulianis sebagai presdirnya itu adalah tempat pencucian uang dari Nazaruddin?

Gimana menjadi tempat pencucian uang Mas, izin-izinnya saja belum saya tandatangani. Sampai sekarang itu izin-izinnya belum ada.

RCTI: Jadi sudah beroperasi atau belum beroperasi Mbak Yuliani?

Belum... belum beroperasi karena kalau di BI itu kalau money changer kan harus ada izin dari BI, nah saya kan harus mengurus semua izin-izin itu. Cuma karena saya sendiri kurang atau tidak sesuai dengan hati nurani saya, ya saya ulur-ulur untuk mengurusnya.

RCTI: Oh, jadi secara sengaja Anda mengulur waktu karena tahu bahwa ini adalah sesuatu yang tidak benar, gitu ya?

Ya saya kan ngeri juga.

RCTI: Tapi Mbak Yulianis, dalam kasus suap wisma atlet SEA Games, bukannya Anda menjadi perantara juga menerima uang dari PT DGI, kalau tidak salah cek masing-masing senilai Rp1 miliar.

Kalau untuk masalah kasus, karena itu kan sedang berjalan dan di persidangan sudah jelas, saya kayaknya kurang, tidak bisa omongin itu, takut mengganggu persidangan.

RCTI: Tapi apakah benar pihak Nazaruddin menerima uang succes fee dari PT DGI itu?

Kalau itu kayaknya mesti bicara sama KPK deh mas.

RCTI: Mbak Yulianis, Anda mengatakan mencatat uang keluar dan masuk di PT-nya Pak Nazaruddin, apakah memang success fee, imbalan dari suatu proyek itu sering diterima oleh perusahaan itu dan sering Anda catat?

Semua uang yang saya terima saya catat mas.

RCTI: Ya itu, apakah biasanya Mbak Yulianis tahu sumbernya dari mana?

Ya pasti sumbernya dari proyek.

RCTI: Banyakan proyek ya?

Iya karena terlalu banyak proyeknya, jadi saya tidak bisa menyebutkan satu persatu.

RCTI: Termasuk dari BUMN, Mbak Yulianis?

Kalau itu lebih baik..., karena kan semua catatan saya kan ada di pihak yang berwenang ya, jadi ditanyakan sama pihak yang berwenang.

RCTI: Ya, kalau uang keluar, apakan uang yang keluar itu Anda catat juga, termasuk jika uang itu mengalir ke partai politik, pimpinan parpol, aparat, ataupun kepada pejabat, itu Anda catat juga semua?

Mengenai itu semua karena kan saya takutnya banyak fitnah nih, jadi lebih baik sih itu ditanyakan langsung ke pihak yang sudah memegang data saya. Karena waktu itu data-data saya langsung disita mereka, jadi saya tidak punya catatan lagi.

Untuk wawancara selengkapnya baca di sini

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini