Share

PTN Dinilai Belum Penuhi Kuota 20% Anak Miskin

Salman Mardira, Okezone · Senin 25 Juli 2011 20:10 WIB
https: img.okezone.com content 2011 07 25 373 484167 2zWg4LSurW.jpg Ilustrasi : Corbis

BANDA ACEH – Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia dinilai belum sepenuhnya memberikan kuota 20 persen kursi untuk anak-anak kurang mampu.

Anggota Komisi X DPR RI Utut Adianto mengatakan, berdasarkan pantauan pihaknya selama ini, PTN rata-rata baru memberikan 4-6 persen jatah untuk warga kurang mampu.

 

“Dorongan agar menyediakan 20 persen kursi untuk masyarakat kurang mampu belum terealisasi. Berdasarkan pantauan kami di lapangan, rata-rata PTN baru memberikan jatah kursi sekitar 4-6 persen saja,” katanya dalam kunjungan ke Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh, Senin (25/7/2011).

 

Menurutnya kebijakan harus tersedia kursi minimal 20 persen dari daya tampung PTN kepada warga kurang mampu untuk memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat kurang mampu.

 

“Sangat disayangkan kalau ini tidak dilaksanakan sepenuhnya, karena kita tahu di luar sana masih banyak anak yang memiliki prestasi di bidang akademik tapi tidak mampu dari segi ekonomi,” kata politisi PDI Perjuangan itu.

 

Utut menilai, tingginya biaya pendidikan tinggi di Indonesia selama ini membuat pendidikan tinggi hanya mampu dinikmati kalangan menengah ke atas. Perguruan Tinggi dinilai gagal dalam membangun pendidikan kalau tiap tahun terus menaikkan biaya pendidikannya.

 

Pengawasan agar hal ini berjalan sebagaimana mestinya, lanjut Utut, akan terus ditingkatkan. Komisi X yang salah satunya membidangi pendidikan, saat ini sedang menggodok Rancangan Undang-Undang Perguruan Tinggi (RUU-PT).

 

Menurut Utut, UU tersebut sangat penting untuk mendorong Perguruan Tinggi lebih terarah dan lebih diperhatikan.

 

Pembantu Rektor bidang akademik Unsyiah, Samsul Rizal mengatakan, Unsyiah saat ini sudah melaksanakan kebijakan menyediakan kuota 20 persen untuk masyarakat kurang mampu.

 

“Malah secara persentase, kita sudah menerima 35 persen mahasiswa dari kalangan kurang mampu, dari keluarga petani dan nelayan,” ujar dia.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini