Share

Dosen Unair Terpilih Jadi Ketua INS Periode I

Nurul Arifin, Okezone · Rabu 21 September 2011 16:33 WIB
https: img.okezone.com content 2011 09 21 373 505343 oI2vREKuQe.jpg

SURABAYA - Kongres Indonesian Neurosains Society (INS) akhirnya memutuskan Prof Suhartono Taat, salah satu dosen di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) sebagai Ketua INS untuk periode empat tahun ke depan.

Selanjutnya Dr dr Taufiq Pasiak, Kelompok Kerja Neurosains Society (KKNS) Rumah Sakit Islam (RSI) Jakarta terpilih sebagai sekretaris. Kongres yang digelar selama dua hari ini diikuti kurang lebih 300 peserta. Selain pemilihan pengurus, mereka pun menentukan program kerja empat tahun ke depan.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Menurut Dr Joni Wahyuhadi, Ketua Pelaksana Kongres,  proses terpilihnya Ketua dan Sekretaris ini tidak berlangsung lama. "Prosesnya melalui musyawarah dari perwakilan-perwakilan daerah yang diundang. Peroleh kata sepakat dari tujuh perwakilan dari daerah tersebut hanya membutuhkan waktu sekira setengah jam," kata Joni kepada okezone ditemui di Aula FK Unair Surabaya, Rabu (21/9/2011).

Beberapa daerah yang hadir adalah Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Yogyakarta. Dia menjelaskan, proses pemilihan ketua dan sekretaris INS tidak serupa dengan organisasi politik. Intinya, mereka yang ada di wadah ini sama-sama memiliki kesadaran tentang pentingnya neurosains dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

"Selanjutnya kepengurusan ini selama dua bulan ke depan akan menyusun program dan menyiapkan pertemuan rutin dua tahun lagi di Makassar," tandasnya.

Di tempat yang sama,  Dr dr Taufiq Pasiak, Sekretaris INS ini akan memfokuskan INS dalam beberapa program utama. Pertama, mendorong pemerintah untuk terciptanya Brain Dekade. Kemudian, Family Neurosains, yakni menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas mulai dari keluarga. "Family Neurosains ini menciptakan sumber daya yang meski berusia tua, namun otak dan fisik tetap produktif dan untuk memujudkan program-program itu diperlukan Networking yang kuat," katanya.

Untuk Brain Dekade, kongkretnya adalah memberikan pelatihan agar manusia kreatif dan inovatif, seperti di negera-negara maju. "Di Amerika sendiri, Brain Dekade sudah tercetus sejak 1990. Sedangkan Indonesia belum. Mudah-mudahan INS ini menjadi tonggak meski sudah tertinggal dengan Amerika," tukasnya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini