nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hutan Kota Dunia Diproklamirkan di Bandung

Iman Herdiana, Jurnalis · Rabu 28 September 2011 02:53 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2011 09 28 340 507861 3xrVilB60P.jpg wikimediacommons

BANDUNG - Babakan Siliwangi Bandung, Jawa Barat, diproklamirkan sebagai World City Forest (Hutan Kota Dunia). Penetapan hutan kota dunia secara resmsi dilakukan bersamaan dengan konferensi lingkungan internasional, TUNZA International Children and Youth Conference On the Environment 2011 di gedung yang berada di wilayah Baksil, yakni Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB.

 

Lahan Baksil yang luasnya sekira 3.000 meter persegi diproklamirkan sebagai Hutan Kota Dunia oleh Menteri Lingkungan Hidup (LH) Gusti Muhammad Hatta, Walikota Bandung Dada Rosada, Executive Director United Nations Environment Program (UNEP) Achim Steiner, dan ratusan peserta konferensi serta warga Bandung.

 

Namun di tengah deklarasi hutan itu, masih muncul pro-kontra dari elemen masyarakat. Sebab, meski Baksil sudah resmi jadi Hutan Kota Dunia tetapi kelak di dalamnya akan dibangun restoran yang memakan lahan hutan sebanyak 2.000 meter persegi.

 

Meski sudah mengetahui hal itu, Menteri Lingkungan Hidup (LH) Gusti Muhammad Hatta menganggapnya tidak masalah. Menurutnya, restoran dibangun hanya untuk mengenang restoran legendaris yang sebelumnya pernah ada di Baksil.

 

“Restoran sekadar untuk ingat sejarah, dia enggak makai terlalu banyak tempat, sedikit sekali. Tidak lebih. Saya dengar seperti itu mari kita lihat sama-sama. Jangan sampai (bangunan restoran-nya) melebar,” kata Gusti, usai penetapan Baksil sebagai Hutan Kota Dunia, Selasa (27/9/2011).

 

Dia berharap, ditetapkannya Baksil sebagai Hutan Kota Dunia akan menjadi contoh bagi dunia. “Hutan kota ini bagus bagi Indonesia yang selalu memberi contoh setiap ada event biar nanti ditiru,” ujarnya.

 

Walikota Bandung Dada Rosada menjelaskan, total luas Baksil sekira 13 hektar yang pengelolaannya dibagi tiga, yakni 11 hektar oleh ITB untuk bangunan Sabuga, lapangan sepak bola, dan sarana olah raga lainnya seperti kolam renang. Sisanya sekira 3 hektar dikelola Pemkot Bandung yang bekerja sama dengan PT EGI yang akan membangun restoran.

 

“Soal pembangunan restoran ya kita rumus, sedang nunggu RT/RW-nya dari Provinsi Jabar. Sudah lama dirumuskannya,” kata Dada.

 

Dia menjelaskan, tanah tiga hektar tersebut merupakan milik Pemkot Bandung. Sedangkan PT EGI yang memiliki dana untuk membangun restoran. Kerja sama dengan PT EGI dilakukan kontrak selama 20 tahun. “Jadi dia (PT EGI) punya uang untuk membangun kita punya aset. Setelah itu 20 tahun itu barangnya milik kita,” jelasnya.

 

Dada berkilah, konsep awal perjanjian dengan PT EGI sudah disepakati hanya untuk membangun rumah makan saja. Meski awalnya PT EGI mengajukan pembangunan kondominium dan hotel, namun oleh Pemkot Bandung tidak diizinkan.

 

“Tidak lebih hanya rumah makan 2.000 meter. Rumah makan diizinkan karena masyarakat yang minta. Di sini ada pepes ikan, sayur asem yang enak,” tuturnya tanpa menyebut masyarakat mana yang dimaksud.

 

Salah satu elemen masyarakat yang tidak menyetujui pembangunan restoran di Hutan Kota Dunia itu adalah Ketua Bandung Creative Community Forum (BCCF) Ridwan Kamil. Menurutnya, masyarakat berharap bahwa hutan kota adalah hutan tanpa bangunan.

 

“Kita dukung ini dijadikan hutan kota dunia. Tetapi jika dikerjasamakan akan ada limbah. Seharusnya ini tetap jadi huta kota sebagai ruang publik yang bisa dipakai publik,” tegasnnya.

(abe)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini