Share

Rektor ITS Minta Bea Cukai Lepas Sapu Angin

Muhibudin Kamali, Koran SI · Selasa 11 Oktober 2011 12:02 WIB
https: img.okezone.com content 2011 10 11 373 513607 3C0kllQI6o.jpg Foto : Mobil Sapu Angin 4 (Sportku)

JAKARTA – Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Triyogi Yuwono, meminta Bea dan Cukai segera melepaskan mobil Sapu Angin 4. Mobil milik tim mahasiswa ITS itu ditahan Bea Cukai setelah menjurai Shell Eco-Marathon (SEM) Asia di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia sebagai mobil teririt pada Juli lalu.

“Jika Bea dan Cukai tak kunjung melepas mobil tersebut, maka akan menyulitkan mahasiswa kami untuk melakukan persiapan menghadapi kejuaraan tahun depan. Aneh sekali, mobil untuk lomba mahasiswa dianggap barang komersial,” ujar Triyogi Yuwono, Selasa (11/10/2011).

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Menurut dia, semestinya mobil untuk keperluan lomba yang membawa nama negara, apalagi sifatnya untuk penelitian, dibebaskan dari bea masuk. Dia berharap, Bea dan Cukai turut berpartisipasi dalam menghargai hasil karya anak bangsa, yang berhasil mengibarkan Merah Putih di dunia internasional.

Bagi tim Sapu Angin, ini adalah kejadian yang kedua kalinya. Tahun lalu, setelah menjadi juara pertama Asia, Bea dan Cukai juga menahan mobil Sapu Angin 2. Ketika itu, pihak Bea dan Cukai meminta tebusan Rp40 juta. Padahal, tim telah mengeluarkan dana Rp100 juta untuk biaya kirim dan pulang mobil.

Oleh karena itu, pihaknya meminta Bea dan Cukai mendukung prestasi mereka, sebab mereka juga sudah menghabiskan biaya besar. Biaya tersebut mencakup, biaya pembuatan Rp180 juta untuk tiga mobil dan biaya akomodasi atau konsumsi Rp100 juta, serta biaya kirim/pulang mobil Rp100 juta. Sedangkan hasil menjadi juara hanya sekitar Rp18 juta, tentu sangat kurang untuk membayar bea masuk.

Mobil Sapu Angin 4 mengumpulkan nilai efisiensi 150 kilometer per liter (kmpl) dalam ajang Shell Eco-Marathon (SEM) Asia di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia, 7-9 Juli. Mereka mengalahkan tujuh tim lainnya yang bersaing di kelas Urban Concept Internal Combustion dan kelas Alternative Diesel Fuel.

Ketua Tim Sapu Angin ITS, Eko Hardianto minta kerja sama yang baik dari pihak Bea dan Cukai untuk melepas mobil Sapu Angin. Selama berada di tahanan, Tim Sapu Angin telah beberapa kali mendapat undangan pameran. Namun, terpaksa tak bisa dipenuhi, sebab Bea dan Cukai masih menahan mobil kebanggaan Indonesia tersebut.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini