Menelisik Perpecahan Sosial di Indonesia & Eropa

Riani Dwi Lestari, Okezone · Rabu 19 Oktober 2011 19:05 WIB
https: img.okezone.com content 2011 10 19 373 517663 KN3qdye5yn.jpg foto: uph.ac.id

JAKARTA - Himpunan Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan (UPH) menyelenggarakan mengulik perpecahan yang kerap terjadi di Indonesia.

Dialog interaktif tersebut mengundang pembicara Charles Whiteley sebagai delegasi dari European Union dan Franz Magnis Suseno sebagai ahli filsafat dan budaya Indonesia yang mecoba menelisik perbandingan penyebab terjadi perpecahan sosial di Indonesia dan Eropa.

Memulai diskusi, Whiteley menguraikan beberapa penyebab dari perpecahan sosial di Eropa. Penyebab tersebut antara lain adanya ketidakadilan, penurunan ekonomi, diskriminasi, dan perbedaan budaya. Setiap aspek dilatarbelakangi berbagai macam persoalan.

"Ada ketidakadilan dalam hal penghasilan setiap orang," ungkap Whiteley dalam dialog bertema Perpecahan Sosial di Indonesia dan Eropa: Sebuah Perbandingan di UPH  siang tadi, dalam siaran pers kepada okezone, Rabu (19/10/2011).

Selain itu, menurut Whitely, penurunan ekonomi juga berdampak pada perpecahan. Masyarakat menyalahkan pihak-pihak tertentu dan hal ini menyebabkan perpecahan.

Dalam persepektifnya, untuk mengatasi perpecahan, diimplementasikan kebijakan kohesif yang disebut sebagai Regional Policy of the European Union. Kebijakan ini dimaksudkan untuk mengurangi ketidakseimbangan penghasilan, kesejahteraan, dan kesempatan di Eropa.

Meski demikian, situasi berbeda terjadi di Indonesia, Magnis Suseno menjelaskan, sulit jika membandingkan Eropa dan Indonesia karena situasinya sangatlah berbeda.

"Besar kecenderungan untuk terjadi kerusuhan di Indonesia karena ketidakadilan sosial. Masyarakat jenuh dengan tidak solidnya pemerintahan. Semoga reshuffle dapat menyelesaikan masalah tetapi sepertinya banyak orang yang skeptis," katanya.

Magnis menambahkan, Indonesia memiliki organ-organ yang tidak bekerja sebagaimana mestinya. Belum lagi, parlemen yang terus-menerus korupsi mengakibatkan masyarakat putus asa.

"Tentu banyak yang harus dilakukan untuk mengupayakan perdamaian di Indonesia. Prosesnya juga akan panjang. Harus dimulai dari masyarakat sipil," paparnya.

Diskusi yang dihadiri oleh sekitar 80 peserta tersebut merupakan bagian dari acara International Relations Fiesta 2011 yang berlangsung sejak hari Senin-Kamis, 17-20 Oktober 2011 di UPH. Selain dialog interaktif, acara ini juga menampilkan pameran budaya dan pendidikan, kompetisi, dan pameran musik.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini