nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pasien Miskin Pemegang Jaminan Persalinan Ditolak RS

Solichan Arif, Jurnalis · Selasa 22 November 2011 22:13 WIB
https: img.okeinfo.net content 2011 11 22 340 532877 yfDv0eYYti.jpg Ilustrasi

BLITAR - Nur Islamiyah, seorang warga miskin pengguna program Jaminan Persalinan (Jampersal), warga Desa Bakung, RT 03 RW 05, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar ditolak petugas Rumah Sakit Umum Mardi Waluyo, Blitar.

Pihak rumah sakit beralasan tidak ada dokter jaga. Sunaryo Broto, suami Nur yang takut terjadi apa-apa dengan istrinya sempat menawar ke petugas agar istrinya dirujuk ke RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Kabupaten Blitar. Sebab, selain sudah terjadi pendarahan, pasangan suami istri ini bukan termasuk golongan masyarakat yang mampu membiayai operasi persalinan.

Namun, permintaan Sunaryo ditolak, dengan dalih di RS Ngudi Waluyo juga tidak ada dokter jaga. “Petugas kesehatan itu menyebut nama dokter Bambang yang dikatakan tidak sedang berjaga di RSUD Ngudi Waluyo,” ujar Sunaryo melalui Koordinator LSM Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jawa Timur Arif Witanto, Selasa (22/11/2011).

Keluarga pasien diberi pilihan dirujuk ke Rumah Sakit swasta Aminah, Kota Blitar. Syaratnya, status pasien harus terlebih dahulu diubah dari Jampersal menjadi pasien umum. Secara administratif keluarga juga diminta membuat surat pernyataan yang intinya menyetujui pengubahan status tersebut.

“Karena kondisi pasien sudah mengkhawatirkan, keluarga akhirnya menyetujui,” terang Arif. Dalam operasi Caesar pada 22 Oktober, pasien diwajibkan membayar dana sebesar Rp 6.710.000. Bagi Sunaryo yang keseharianya bekerja sebagai penjual bakso keliling, kewajiban tersebut cukup memberatkan. “Untuk memenuhi semua itu keluarga pasien terpaksa harus menghutang,” papar Arif.

Berdasarkan SK Menteri Kesehatan No 515/Menkes/III/2011, program Jampersal di danai oleh APBN. Pada 2011 pemerintah pusat mengalokasikan anggaran untuk program Jampersal sebesar Rp922,79 miliar. Dana tersebut untuk menyubsidi 4,5 juta jiwa ibu hamil di seluruh Indonesia.

Penjelasanya, untuk setiap pasien jampersal dengan persalinan normal cukup membayar Rp350 ribu, sementara pasien umum sebesar Rp600 ribu. Sedangkan pasein jampersal yang melakukan operasi Caesar hanya membayar Rp2,5 juta. Harga ini lebih murah dari pasien umum Caesar yang menghabiskan anggaran sebesar Rp5-6 juta.

Yang mengejutkan, lanjut Arif, operasi Caesar di RS Aminah dipimpin oleh dokter Bambang yang sebelumnya dikatakan tidak sedang berjaga di RSU Ngudi Waluyo Wlingi.

Arif menilai ada ketidakberesan dalam sistem yang berjalan di rumah sakit. Ada kesengajaan melakukan upaya mencari keuntungan berlebih dengan jalan menipu negara sekaligus merugikan masyarakat. Diduga terjadi kongkalikong yang ujung-ujungnya mencari keuntungan.

“Bisa saja kegiatan jampersal tetap dilaporkan dengan meminta klaim ke pemerintah, padahal pasein sendiri telah diarahkan sebagai pasien umum,” tegasnya. Tidak tertutup kemungkinan kejadian ini bukan pertama kalinya. Karenanya Arif mendesak semua pihak terkait untuk melakukan pengusutan.

(ded)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini