Share

Warga Papua Minta Pemerintah Akui Harlah OPM

Prabowo, Okezone · Kamis 01 Desember 2011 16:49 WIB
https: img.okezone.com content 2011 12 01 340 536771 MtYGFySUPp.jpg Warga Papua meminta referendum agar OPM diakui pemerintah (FOto: Prabowo/okezone)

YOGYAKARTA- Mahasiswa dan Masyarakat asal Papua di Yogyakarta memperingati 50 tahun Organisasi Papua Merdeka (OPM) di depan Asrama Papua di Jalan Kusumanegara, Umbulharjo, Yogyakarta.

Mereka menyampaikan aspirasi agar pemerintah Indonesia mengakui hari Kemerdekaan Papua Barat pada 1 Desember.

Follow Berita Okezone di Google News

“Aspirasi saudara-saudara kami di Papua, menginginkan kemerdekaan. Pemerintah bisa membuktikannya dengan malakukan referendum bagi Rakyat West Papua,” kata aktivis mahasiswa asal Papua di Yogyakarta, Martinus, Kamis (1/12/2011).

Martinus menjelaskan, tuntutan rakyat Papua agar dikembalikannya harkat, harga diri, serta idiologi yang sudah dirampas Pemerintah Indonesia sejak 1961.

“Rakyat Papua sudah tak ingin isu-isu murahan yang ditawarkan Pemerintah NKRI seperti pelaksanaan Otonomi Khusus di Papua, perundingan damai, dialog nasional, atau apa pun namannya,” jelasnya.

“Yang diinginkan rakyat Papua adalah dialog yang bermartabat antara rakyat Papua dengan pemerintah Indonesia agar dikembalikan harkat dan harga diri rakyat Papua,” jelasnya.

Martinus juga menyuarakan agar Pemerintah Indonesia menarik personel militer organik dan non-organik yang sampai hari ini masih berada di Papua. Mereka juga menuntut segala bentuk kekerasan terhadap rakyat Papua agar dihentikan.

Selain tuntutan kepada pemerintah Indonesia, mereka juga menuding PBB harus bertanggung jawab untuk mengembalikan kemerdekaan Papua. Martinus kembali menegaskan, segala macam produk hukum seperti Perpera 1961 yang melahirkan Resolusi PBB, sebenarnya adalah penghinaan terhadap hak rakyat Papua untuk menentukan nasib sendiri.

Aksi yang dilakukan mahasiswa asal Papua di Yogyakarta ini hanya berlangsung sekira 1 jam. Meski begitu, personel kepolisian maupun intel-intel dari jajaran TNI tersebar di sekitar lokasi. Usai melakukan aksi di depan asrama, mahasiswa melanjutkan aksi di dalam asrama Papua.

Aparat kepolisian maupun personel TNI berpakaian preman dilarang memasuki asrama. Hanya wartawan yang memiliki identitas khusus yang diperbolehkan masuk ke asrama Papua tersebut.

Sempat terjadi ketegangan, namun setelah pucuk pimpinan kepolisian Resort Kota Yogyakarta, Kombes Pol Mustaqim melakukan dialog. Akhirnya, mahasiswa Papua berjanji tidak akan melakukan aksi yang mengganggu keamanan di luar asrama. 

Saat berada di dalam asrama, mahasiswa asal Papua ini tidak pengibaran bendera ‘Bintang Kejora’ lambang Organisasi Papua Merdeka. Meski demikian, mereka memakai atribut OPM tersebut di antaranya diikatkan pada bagian kepala mereka. Bahkan, mereka mengenakan pakaian adat masyarakat Papua (Koteka) lengkap dengan busur dan anak panah.

Dalam rilis yang mereka bagikan, tersirat tegas pernyataan bahwa peserta aksi tak menginginkan lagi Papua berada di dalam NKRI, melainkan kemerdekaan.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini